Anggota DPD RI Lia Istifhama .
Surabaya (Industrial News) – Wacana penerapan kembali pembelajaran dari rumah mencuat di tengah upaya efisiensi energi global. Meski demikian, kebijakan tersebut memunculkan perdebatan serius terkait dampaknya terhadap kualitas pendidikan di Indonesia.
Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka tetap harus menjadi prioritas utama dalam sistem pendidikan nasional. Menurutnya, proses belajar di sekolah memiliki keunggulan mendasar yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh pembelajaran jarak jauh.
“Tidak semua aspek pendidikan bisa dialihkan ke sistem daring, terutama yang membutuhkan interaksi langsung,” ujar Lia.
Ia menekankan bahwa pembelajaran tatap muka lebih efektif dalam menjaga kualitas interaksi antara guru dan siswa, sekaligus mendukung pembentukan karakter. Berbagai kegiatan seperti praktikum, diskusi, hingga pembelajaran berbasis pengalaman dinilai sulit tergantikan oleh sistem daring.
“Pembelajaran tatap muka harus tetap menjadi prioritas karena mampu menjaga kualitas interaksi. Banyak aspek penting, seperti pembentukan karakter dan kegiatan praktikum, yang tidak bisa optimal jika dilakukan secara jarak jauh,” tegasnya.
Lia juga menjelaskan bahwa kebijakan zonasi pendidikan selama ini telah berkontribusi dalam menekan mobilitas siswa. Dengan jarak sekolah yang relatif dekat dari tempat tinggal, penggunaan energi—khususnya dari sektor transportasi—dapat diminimalkan.
Artinya, pembelajaran tatap muka tidak selalu identik dengan pemborosan energi, selama sistem zonasi berjalan secara optimal.
Di sisi lain, Lia mengingatkan adanya sejumlah risiko serius jika pembelajaran jarak jauh diterapkan secara masif. Selain berpotensi menimbulkan learning loss dan kesenjangan akses akibat perbedaan fasilitas di rumah, sistem daring juga dapat melemahkan interaksi sosial nyata antarsiswa.
“Interaksi sosial yang terbentuk di sekolah merupakan bagian penting dari modal sosial anak. Jika terlalu lama bergantung pada pembelajaran daring, maka interaksi nyata akan berkurang dan modal sosial bisa melemah,” jelasnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya ketergantungan pada perangkat digital yang tidak diimbangi dengan penggunaan secara bijak. Kondisi ini, menurutnya, berkontribusi terhadap munculnya berbagai gangguan kesehatan mental pada anak.
“Ketidakbijakan dalam penggunaan teknologi digital dapat memicu berbagai gangguan mental, mulai dari kecemasan hingga penurunan konsentrasi belajar,” tambah Lia.
Tak hanya itu, pembelajaran jarak jauh juga dinilai berdampak pada penurunan aktivitas fisik siswa. Minimnya gerak dapat memengaruhi perkembangan motorik anak, yang dalam jangka panjang berisiko menyebabkan obesitas maupun gangguan pertumbuhan lainnya.
Meski demikian, Lia tidak menutup kemungkinan penerapan pembelajaran jarak jauh dalam kondisi tertentu, seperti saat terjadi bencana alam, keterbatasan tenaga pendidik di wilayah tertentu, atau situasi darurat lainnya. Dalam konteks tersebut, sistem daring tetap relevan sebagai solusi agar proses belajar mengajar tidak terhenti.
Menghadapi masa pascalibur Idulfitri, Lia mengimbau pemerintah daerah untuk tetap mengedepankan pembelajaran tatap muka sesuai kebijakan yang berlaku. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan serta memastikan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan kondusif bagi seluruh siswa. [*]