15 Juni 2026

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani. ANTARA/HO-BKPM

Jakarta (Industrial News) – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengupayakan investasi yang masuk ke Tanah Air merupakan penanaman modal yang berkualitas, yang memberikan dampak nyata bagi perekonomian secara nasional maupun daerah.

“Strategi investasi kami tidak hanya semata-mata mengejar besar nominasi atau nominal, tapi juga menargetkan bagaimana investasi yang masuk adalah investasi yang berkualitas, di saat bersamaan juga realisasi atau akselerasi implementasi, serta kontribusi terhadap penguatan ekonomi baik di daerah maupun di nasional,” ujar Rosan dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, seperti dilansir dari Antara.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen seperti yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menetapkan target investasi periode 2025-2029 sebesar Rp13.032,8 triliun. Nilai tersebut meningkat 143 persen dibandingkan realisasi investasi dalam 10 tahun terakhir.

Menurut Rosan, meski target investasi meningkat signifikan, pemerintah tetap menempatkan kualitas investasi sebagai hal utama agar mampu menciptakan nilai tambah, mempercepat implementasi, dan memperkuat struktur ekonomi nasional.

Lebih lanjut disampaikan dia pula di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global, BKPM mencatat realisasi investasi pada triwulan I 2026 mencapai Rp498,8 triliun. Capaian tersebut tumbuh 7,2 persen secara tahunan dan telah memenuhi sekitar 24,4 persen dari target investasi tahun 2026.

Realisasi investasi tersebut juga berhasil menyerap sekitar 700 ribu tenaga kerja langsung atau meningkat 18,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi sumber investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi sekitar 49,9 persen atau sebesar Rp248,8 triliun, tumbuh sekitar 6 persen secara tahunan. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang 50,1 persen atau sekitar Rp250 triliun.

Adapun sektor utama penyumbang investasi meliputi industri logam dasar, jasa, pertambangan, perumahan dan kawasan industri, serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi.

Rosan juga menyoroti meningkatnya kontribusi investasi berbasis sumber daya alam yang mencapai 30 persen dari total realisasi investasi pada triwulan I 2026 atau senilai Rp147,5 triliun.

Ke depan, kata dia, pihaknya akan terus mendorong masuknya investasi pada komoditas strategis yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, seperti semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, serta hilirisasi berbasis rumput laut. [*]