
Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyebut sejumlah investor tertarik dengan proyek kawasan industri hijau di Kalimantan Utara (Kaltara). Investor tersebut berasal dari Tiongkok, Arab Saudi, Korea Selatan dan Uni Emirat Arab.
Industri hijau Kaltara dinilai dapat membantu Indonesia menuju transisi energi hijau. Dalam proyek itu, Luhut menyebut Tiongkok masih menjadi investor utama pada proyek tersebut.
“Ini semua kerja sama internasional. Ada Tiongkok di sana sebagai main investor-nya (investor utama). Ada juga dari Korea, Saudi, Abu Dhabi, dan tentu ada dari Indonesia sendiri,” kata Luhut di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.
Menurut Luhut, di Kaltara akan dibangun energy hijau hingga 11 gigawatt hydropower. Nantinya akan digabung beberapa pembangkit energi ramah lingkungan, seperti PLTA, PLTS dan pembangit listrik tenaga gas.
“Seperti kita buat di Kalimantan Utara, itu kita bikin mix energy (energi gabungan). Kita bangun hampir 11 gigawatt hydropower, dan dalam 11-12 tahun untuk jadi, dan kita mix dengan solar panel, dan mix juga dengan gas,” ungkap Luhut.
Luhut mengatakan, total investasi Tiongkok di industri hijau Kaltara masih mendominasi. Ia juga menyebut ada potensi negara lain untuk investasi di Kaltara. “Kita kerja sama dengan Tiongkok, mereka masih besar tapi sekarang Saudi minta masuk petrochemical. Tapi tahap pertama yang US$ 11 miliar atau Rp171 trilun lebih. Pihak Tiongkok tidak bisa lagi karena sudah jalan,” imbuhnya.
Sekadar mengingatkan, Desember 2021, Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo melakukan groundbreaking kawasan industri di Kaltara. Terdapat tiga perusahaan yang menjadi pengelola di kawasan industri, yakni PT KIPI, PT Indonesia Strategis Industri (ISI), dan PT Kayan Patria Propertindo (KPP).
Kawasan industri tersebut dibangun di lahan seluas 4.704 hektare (ha) dan PT KIPI dibangun seluas 24.782 ha.
Sumber: https://nomorsatuutara.com/tiongkok-investor-utama-proyek-industri-hijau/