Peluncuran komunitas Perempuan Tani Syngenta Raih Impian (PUTRI) Petani MAJU di Batang yang dilakukan Syngenta Indonesia untuk memperkuat pemberdayaan petani perempuan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. ANTARA/HO-Syngenta Indonesia
Jakarta (Industrial News) – Syngenta Indonesia memperkuat pemberdayaan petani perempuan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah guna meningkatkan produktivitas dan mendukung swasembada serta ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia Eryanto mengatakan upaya itu dilakukan melalui peluncuran komunitas Perempuan Tani Syngenta Raih Impian (PUTRI) Petani MAJU di Batang.
“PUTRI Petani MAJU hadir sebagai wadah pemberdayaan yang akan menjadi katalisator transformasi sektor pertanian Indonesia. Komunitas ini menekankan peran strategis perempuan yang tangguh, konsisten, dan berdampak dalam pertanian,” kata Eryanto dalam keterangan di Jakarta, seperti dilansir dari Antara.
Dia menyampaikan komunitas itu akan menjadi payung bagi semua hal yang berkaitan dengan pahlawan perempuan yang mengabdi di bidang pertanian dan menghidupkan visi Petani MAJU.
“Ketika kita melatih satu perempuan, kita memberdayakan satu keluarga. Ketika kita memberdayakan #PUTRIPETANIMAJU, kita memberdayakan satu bangsa Indonesia ” ujar Eryanto.
Adapun peluncuran itu dihadiri 450 petani perempuan, pejabat pemerintah setempat, jajaran manajemen Syngenta Indonesia, serta Presiden Syngenta Crop Protection, Steve Hawkins, hingga pemimpin Syngenta Regional.
Peluncuran komunitas itu ditandai dengan pembacaan deklarasi oleh tiga perwakilan petani perempuan, dan prosesi gejog lesung yang melambangkan gotong royong, kebersamaan, kerja keras, kesabaran, dan harapan akan kehidupan berkelanjutan – nilai-nilai yang menjadi fondasi PUTRI Petani MAJU.
Momentum peluncuran itu bertepatan dengan penetapan tahun 2026 sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan (International Year of the Woman Farmer/IYWF) oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).
“Yang menegaskan pengakuan global terhadap peran vital perempuan dalam pertanian, ketahanan pangan, dan gizi,” ucap Eryanto.
Data tahun 2025 pihaknya mencatat jumlah petani perempuan di Indonesia mencapai 4,2 juta orang. Mereka memiliki peran penting di sektor pertanian dan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Menurutnya petani perempuan berperan aktif mulai dari hulu hingga hilir, termasuk pemilihan benih-budidaya-panen-hingga mengolah hasil panen. Namun, hanya 10-20 persen yang memiliki akses terbatas ke input pertanian, teknologi, keuangan, pengetahuan, dan pasar. Hal itu berdampak terhadap tingkat produktivitas.
Ia menyebutkan berdasarkan data FAO memperkirakan hasil panen dapat meningkat hingga 30 persen jika petani perempuan memperoleh akses yang setara ke teknologi dan sumber daya. Sebuah angka yang signifikan dalam menunjang program ketahanan pangan pemerintah.
Selain itu, lanjut Eryanto, apresiasi terhadap petani perempuan dalam hal upah masih perlu diperjuangkan. Di beberapa daerah masih ada kesenjangan upah petani perempuan dan petani laki-laki.
Buruh tani perempuan cenderung dibayar lebih murah daripada buruh tani laki-laki untuk jenis pekerjaan dan jam kerja yang sama. Kesenjangan ini akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani perempuan.
Perlu upaya bersama dan kolaborasi multi pihak yang berkelanjutan antara pemerintah, swasta, dan komunitas untuk memberdayakan petani perempuan.
“Syngenta sebagai pemimpin dunia dalam inovasi pertanian, berupaya meningkatkan kesejahteraan petani kecil dan memimpin jalan menuju pertanian yang inklusif,” beber Eryanto.
Melalui PUTRI Petani MAJU, tambah Eryanto, Syngenta berkomitmen mendukung pemberdayaan petani perempuan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan sistem pertanian di Indonesia, yang akan membawa perubahan besar dalam swasembada serta ketahanan pangan nasional.
Annisa, perwakilan petani perempuan yang hadir dalam peluncuran PUTRI Petani MAJU, menyambut hangat kehadiran komunitas tersebut sebagai langkah nyata pemberdayaan perempuan di sektor pertanian.
Ia mengapresiasi upaya Syngenta Indonesia dalam mendorong peran petani perempuan, seraya menegaskan bahwa perempuan tani memiliki peran istimewa dan strategis sebagai penopang ketahanan pangan keluarga sekaligus bangsa.
“Petani perempuan tidak boleh minder karena kita istimewa dan luar biasa. Petani perempuan bukan hanya tiang ketahanan pangan untuk keluarga tetapi juga untuk bangsa,” kata Annisa. [*]