7 Agustus 2026

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku "10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia" yang digelar di Jakarta, Jumat (7/8/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

Jakarta (Industrial News) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong program hilirisasi untuk menjadi tuan di negeri sendiri, sehingga terbentuk kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam.

“Bagaimana membangun kedaulatan dalam rangka pengelolaan sumber daya alam? Hilirisasi adalah instrumennya,” ujar Bahlil dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku “10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia” yang digelar di Jakarta, seperti dilansir dari Antara.

Bahlil menyampaikan hilirisasi di Indonesia belum seutuhnya sesuai dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Sila Kelima dari Pancasila.

Melalui bukunya yang berjudul “Tuan di Negeri Sendiri”, Bahlil menyoroti bagaimana hilirisasi berlangsung di daerah, namun manfaatnya hanya dirasakan oleh pemerintah pusat dan investor.

“Karena dulu itu hilirisasi kita belum by design, masih konsepnya tiba saat tiba akal. Yang penting jadi dulu,” kata Bahlil.

Oleh karena itu, dalam buku “Tuan di Negeri Sendiri”, Bahlil menceritakan bagaimana kelembagaan itu penting bagi hilirisasi sebagaimana yang dilakukan oleh Korea Selatan, Jepang, dan China.

Lebih lanjut, ia juga menyampaikan keuntungan hilirisasi lebih banyak dirasakan oleh pihak luar karena investor dalam program hilirisasi banyak berasal dari luar negeri.

“Ini karena bank kita enggak mau membiayai itu (hilirisasi). Alhamdulillah karena Bapak Presiden mengerti tujuan hilirisasi, sekarang yang mengelola dan membiayai hilirisasi adalah Danantara,” kata Bahlil.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam peluncuran 10 buku yang telah ia susun sejak masih menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Adapun yang terpantau menghadiri peluncuran 10 buku tersebut adalah Presiden Prabowo Subianto, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Republik Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad, hingga jajaran menteri dari Kabinet Merah Putih. [*]