Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberi keterangan kepada awak media usai Rapat Koordinasi Pembahasan Pengembangan dan Upaya Stabilisasi Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit secara terbuka di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (8/6/2026). ANTARA/Harianto
Jakarta (Industrial News) – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menilai penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah menjadi momentum positif untuk mendorong peningkatan ekspor komoditas pertanian dan perkebunan Indonesia ke pasar global.
“Khusus (sektor) perkebunan itu kami dorong ekspor, termasuk sawit kita dorong, kenapa? Ini momentum yang baik,” kata Mentan ditemui usai Rapat Koordinasi Pembahasan Pengembangan dan Upaya Stabilisasi Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Jakarta, seperti dilansir dari Antara.
Amran menyampaikan hal tersebut saat menjawab pertanyaan awak media mengenai dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bagi sektor pertanian dan perkebunan nasional.
Menurut dia, kondisi nilai tukar rupiah yang menembus lebih dari Rp18.000 per dolar AS perlu disikapi secara cermat karena berpotensi memberikan pengaruh terhadap berbagai aktivitas usaha, termasuk perdagangan komoditas pertanian.
Meski demikian, Amran menilai setiap tantangan ekonomi selalu menghadirkan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor pertanian nasional, terutama melalui peningkatan ekspor komoditas unggulan ke pasar global.
Menurut dia, sektor perkebunan menjadi salah satu subsektor yang berpotensi memperoleh manfaat dari kondisi tersebut karena produk-produk ekspor Indonesia akan semakin kompetitif di pasar internasional.
Karena itu, Kementerian Pertanian terus mendorong percepatan ekspor berbagai komoditas unggulan, termasuk kelapa sawit, hortikultura dan komoditas pangan yang memiliki peluang pasar cukup besar.
Amran menegaskan peningkatan ekspor diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani sehingga kesejahteraan mereka meningkat seiring tumbuhnya kinerja perdagangan pertanian nasional.
“Sisi positifnya (dari pelemahan rupiah pada sektor) perkebunan adalah seluruh perkebunan hortikultura, pangan kita yang diekspor, itu kita dorong cepat. Kita dorong cepat sehingga petani untung, petaninya untung,” ucap Amran.
Sebelumnya, Mentan menyatakan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia menguat, sehingga memperkokoh posisi sebagai raja sawit dunia, didukung peningkatan produksi di dalam negeri.
“Kalau CPO kita olah menjadi margarin, kosmetik dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60 persen pasar dunia. Artinya Indonesia sangat menentukan,” kata Mentan.
Menurut dia, kinerja ekspor CPO dan produk turunannya kembali menegaskan kekuatan Indonesia sebagai pemain utama global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari-Februari 2026 mencapai 4,69 miliar dolar Amerika Serikat (AS), melonjak 26,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,71 miliar dolar AS.
Lonjakan itu tidak hanya terlihat dari nilai, tetapi juga volume. Ekspor meningkat dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton pada periode yang sama.
Kenaikan tersebut menunjukkan permintaan global terhadap produk berbasis sawit Indonesia masih sangat kuat, sekaligus mempertegas daya saing komoditas ini di pasar internasional.
Dia juga mengatakan berdasarkan pernyataan resmi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada 13 Maret 2026, produksi CPO Indonesia sepanjang 2025 mencapai 51,66 juta ton atau meningkat 7,26 persen (naik sekitar 3,5 juta ton) dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara total produksi CPO dan PKO (palm kernel oil) tercatat sebesar 56,55 juta ton atau naik 7,18 persen. Dari sisi perdagangan, ekspor produk sawit Indonesia sepanjang 2025 juga menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat.
Volume ekspor mencapai 32,34 juta ton atau naik 9,51 persen, dengan nilai menembus 35,87 miliar dolar AS, melonjak 29,23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. [*]