2 November 2026

Petani membawa seikat padi yang baru dipanen di kawasan persawahan. ANTARA/HO-Kementan.

Jakarta (Industrial News) – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan kesejahteraan petani terus menguat setelah Nilai Tukar Petani (NTP) Oktober 2026 mencatat rekor 132,60, didorong kenaikan harga hasil pertanian.

Amran mengatakan kesejahteraan petani menunjukkan perkembangan positif dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Terbaru, (menurut data Badan Pusat Statisik) Nilai Tukar Petani pada Oktober 2026 mencatatkan rekor tertinggi 132,60, nilainya naik 1,13 persen dibandingkan September,” kata Amran terkonfirmasi di Jakarta, seperti dilansir dari Antara.

Dia menyampaikan kenaikan itu menunjukkan harga hasil pertanian yang diterima petani meningkat lebih tinggi dibandingkan pengeluaran yang harus mereka bayarkan.

Amran menuturkan peningkatan kesejahteraan petani menjadi bagian penting dari keberhasilan pembangunan pertanian selama pemerintahan Prabowo-Gibran.

Karena itu, Amran selalu menekankan bahwa penguatan produksi perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga harga hasil panen, memperluas akses pasar, serta meningkatkan nilai tambah komoditas agar manfaat pembangunan pertanian dapat dirasakan langsung oleh petani.

“Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, swasembada pangan berkelanjutan harus beriringan dengan kesejahteraan petani yang semakin membaik. Kita ingin petani sejahtera, produksi meningkat, masyarakat mendapatkan pangan dengan harga yang stabil,” tuturnya.

Mentan menjelaskan selama kepemimpinan Presiden Prabowo, berbagai kebijakan diarahkan untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani.

Mulai dari penyesuaian harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan jagung yang lebih terjamin, kepastian penyerapan hasil panen, efisiensi regulasi penyaluran pupuk bersubsidi, penurunan harga pupuk subsidi hingga 20 persen, dan berbagai kebijakan yang pro kepada petani.

“Kita ingin petani semakin sejahtera. Negara harus hadir melindungi dan memberikan jaminan bagi petani. Jika petani semangat untuk bertani, swasembada pangan berkelanjutan dapat terwujud,” ucapnya.

Kementerian Pertanian terus mendorong agar peningkatan produksi pangan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani.

Penguatan harga hasil panen, kemudahan akses sarana produksi, pembangunan irigasi, mekanisasi, serta peningkatan produktivitas menjadi bagian dari upaya menjaga agar pertumbuhan sektor pertanian memberikan manfaat ekonomi yang semakin besar bagi petani.

Adapun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (2/11) kenaikan NTP ditopang peningkatan harga di tingkat petani sebesar 1,55 persen.

Sementara itu, pengeluaran petani untuk konsumsi rumah tangga dan biaya produksi hanya meningkat 0,41 persen. Artinya, nilai hasil pertanian yang dijual petani tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan pengeluaran mereka.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan sejumlah komoditas menjadi pendorong utama kenaikan harga yang diterima petani pada Oktober, terutama karet, jagung, cabai merah, dan gabah.

“Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,55 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani yang naik 0,41 persen,” kata Ateng.

Jika dilihat berdasarkan subsektor, hortikultura menjadi penyumbang penguatan paling menonjol. NTP hortikultura melonjak 6,88 persen, dari 129,50 pada September menjadi 138,41 pada Oktober 2026.

Kenaikan itu terutama didorong membaiknya harga cabai merah, tomat, dan cabai rawit yang memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan petani hortikultura.

Ateng menjelaskan, harga yang diterima petani hortikultura meningkat 7,12 persen, sedangkan harga barang dan jasa yang dibayar hanya naik 0,32 persen. Selisih pertumbuhan tersebut membuat NTP hortikultura mencatat kenaikan tertinggi dibandingkan subsektor lainnya.

“Komoditas yang dominan mempengaruhi indeks harga yang diterima petani hortikultura terutama cabai merah, tomat, dan cabai rawit,” jelas Ateng.

Penguatan juga terjadi pada subsektor tanaman pangan. NTP subsektor ini naik 1,07 persen dari 119,24 menjadi 120,52. Sementara itu, NTP tanaman perkebunan rakyat meningkat 0,30 persen dari 171,67 menjadi 172,18.

Kenaikan NTP itu menunjukkan harga hasil pertanian yang diterima petani tumbuh lebih tinggi dibandingkan kenaikan pengeluaran mereka. Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi penguatan posisi ekonomi dan kesejahteraan petani. [*]