Pengunjung melihat kerajinan seni ukir pada Central Java Furniture and Carving Expo (CJFACE) 2026 di DP Mal, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (13/6/2026). Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah menggelar pameran yang berlangsung pada 13-16 Juni 2026 sebagai ajang promosi produk furnitur dan seni ukir UMKM unggulan berkualitas ekspor sekaligus upaya memperkuat sektor manufaktur daerah serta memperluas akses pasar bagi pelaku usaha. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/tom.
Jakarta (Industrial News) – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan kinerja ekspor Indonesia ditopang oleh ekspor industri pengolahan atau manufaktur yang tumbuh 12,48 persen.
Nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 26,61 miliar atau tumbuh 6,72 persen dibanding Agustus 2025. Pertumbuhan pada Agustus 2026 ditopang oleh ekspor nonmigas sebesar 25,62 miliar dolar AS. Dari nilai tersebut, ekspor industri pengolahan atau manufaktur tumbuh 12,48 persen.
“Di tengah dinamika ekonomi global, produk-produk Indonesia tetap diminati dan mampu bersaing di pasar internasional. Pertumbuhan ekspor ini menjadi sinyal positif bahwa aktivitas perdagangan Indonesia terus berada dalam tren ekspansif,” ujar Budi dalam keterangan di Jakarta, seperti dilansir dari Antara.
Budi memaparkan, pada Januari-Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 193,64 miliar dolar AS atau meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, ekspor industri pengolahan menjadi penopang utama pada Januari-Agustus 2026 dengan nilai 159,55 miliar dolar AS atau tumbuh 7,87 persen.
Ia menekankan, akselerasi ekspor manufaktur mencerminkan keberhasilan Indonesia menggeser struktur ekonomi menuju produk bernilai tambah.
Menurutnya, Indonesia kini mulai bertransformasi dari eksportir bahan mentah ke produsen produk olahan industri bernilai tambah tinggi.
“Hilirisasi ini terbukti menjadi katalis utama yang melipatgandakan nilai ekspor, memperkuat daya saing industri nasional, serta menciptakan dampak berganda bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi domestik,” kata Budi.
Budi menjelaskan, penguatan kinerja ekspor turut tercermin pada neraca perdagangan Indonesia yang pada Agustus 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar 3,55 miliar dolar AS.
Surplus ini ditopang oleh sektor nonmigas yang mencapai 6,09 miliar dolar AS. Dari sisi komoditas, ekspor nonmigas Indonesia pada Agustus 2026, antara lain, ditopang besi dan baja, minyak kelapa sawit dan produk turunannya, serta batu bara.
Negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada periode tersebut adalah Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India.
Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Agustus 2026 secara kumulatif membukukan surplus 7,25 miliar dolar AS, dengan surplus nonmigas mencapai 28,54 miliar dolar AS.
Pada periode tersebut, AS, India, dan Filipina menjadi negara dengan kontribusi surplus nonmigas terbesar.
Budi menilai, diperlukan upaya memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk Indonesia untuk menjaga surplus.
Oleh karena itu, menurut Budi. pemerintah akan terus mengoptimalkan berbagai kerja sama dan perjanjian perdagangan yang dimiliki Indonesia untuk membuka peluang pasar yang lebih luas bagi eksportir nasional. [*]