Pembangunan Kawasan Industri Pupuk di Kabupaten Fakfak, Papua Barat oleh anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero), yaitu PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) diharapkan bisa mendukung program Pemerintah terkait ketahanan pangan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, pembangunan kawasan industri pupuk pertama di Indonesia dimulai di Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 1959, lalu di Gresik, Jawa Timur tahun 1972.
Di Cikampek, Jawa Barat tahun 1975 dan Bontang, Kalimantan Timur tahun 1977. Terakhir, kata Rahmad, Indonesia membangun industri pupuk pada tahun 1982 di Aceh.
“Artinya, proyek ini menjadi kawasan industri pupuk baru yang dibangun di dalam negeri setelah empat dasawarsa,” ujar Rahmad, melalui siaran pers, Sabtu (25/11/2023).
Karenanya, kawasan industri yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) ini akan mulai dibangun dan ditandai dengan pelaksanaan groundbreaking (peletakan batu pertama) oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, pada Kamis (23/11/2023).
Rahmad menjelaskan, di kawasan ini akan dibangun pabrik dengan kapasitas produksi pupuk Urea sebesar 1.150.000 ton per tahun, serta amonia 825.000 ton per tahun.
Hal ini sebagai bentuk dukungan perseroan, dalam mendukung program Pemerintah terkait ketahanan pangan nasional.
Salah satunya, dengan meningkatkan kapasitas produksi pupuk melalui Proyek Kawasan Industri Pupuk di Fakfak.
“Keberadaan pabrik ini akan menyuplai kebutuhan pupuk di Indonesia, khususnya untuk sektor pertanian,” ujar Rahmad.
Menurutnya, dengan tambahan kapasitas tersebut, keberadaan kawasan industri pupuk baru di Papua Barat ini akan memperkuat posisi Pupuk Indonesia sebagai perusahaan penyedia pupuk terbesar di Asia Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara.
Selain itu, kawasan industri pupuk menurut Rahmad juga akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia Timur, Pemerintah dan negara.
Bahkan, selain mendukung iklim investasi, proyek ini akan menyerap tenaga kerja sebanyak 10.000 orang selama masa konstruksi dan 400 orang saat beroperasi.
Tak hanya itu, potensi kontribusi pertumbuhan ekonomi domestik melalui penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di proyek mencapai sekitar Rp10 triliun.
Sementara itu, kontribusi bagi pendapatan daerah menurut Rahmad, diperkirakan mencapai Rp 15 miliar per tahun.
Karenanya, keberadaan kawasan industri pupuk ini akan memiliki dampak terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur.
“Kawasan industri pupuk ini, nantinya juga dapat memberikan kontribusi positif dengan mendorong tumbuhnya bisnis pendukung kawasan sekitar sebesar Rp 650 miliar per tahun,” jelas Rahmad.
Rahmad menargetkan, pabrik pupuk urea ini akan mulai berproduksi pada awal tahun 2028, yang dijalankan Pupuk Kaltim sebagai salah satu anggota holding dari Pupuk Indonesia.
“Pabrik ini juga dibangun melalui pendekatan ESG (Environmental, Social, and Governance), yaitu pemanfaatan teknologi baru yang lebih rendah karbon, serta ramah lingkungan,” kata Rahmad.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyambut baik rencana pembangunan Kawasan Industri Pupuk di Fakfak.
Jokowi bilang, proyek ini menjadi strategi besar negara dalam menghadapi ancaman krisis pangan dunia dan mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
Nantinya, pabrik pupuk ini diharapkan mampu mendukung rencana atau program Provinsi Papua Selatan menjadi lumbung pangan nasional.
Jokowi mengatakan, sudah 40 tahun Indonesia memiliki lima industri pupuk dan semuanya berada di kawasan barat. Yang kawasan timur, belum ada sama sekali.
“Mendengar rencana ini, langsung saya perintahkan untuk segera dieksekusi agar kawasan timur juga memiliki industri pupuk. Ini sebuah rencana besar, saling mendukung, dan kita harapkan tanah Papua akan semakin makmur dan sejahtera,” tandas Jokowi.
Reporter: Irma Yulia
Editor: Sri Nurganingsih
