
Indonesia punya target ambisius dalam hal transisi energi, yakni tercapainya Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Target itu tentu butuh perencanaan yang matang supaya bisa terwujud.
Wakil Menteri BUMN I Pahala Mansury mengatakan salah satu upaya pemerintah ialah pengembangan green industry cluster atau kawasan industri khusus yang berbasiskan energi baru dan terbarukan (EBT).
Dalam sambutannya di salah satu sesi diskusi EBTKE Conex, Pahala menerangkan pengembangan green industry cluster itu telah diimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan pelat merah seperti PT Pupuk Indonesia, PT Pertamina, hingga PT PLN.
“Pupuk Indonesia, Pertamina, PLN, dan BUMN lainnya tengah membangun green industry cluster seperti di Aceh itu KEK Lhokseumawe, lalu KEK Sei Mangkei, hingga KEK Gresik,” ujarnya di Jakarta, Kamis (13/7).
Dengan upaya itu, pemerintah berharap bisa mengembangkan kawasan industri hijau sebagai penghasil molekul hijau seperti green hydrogen. Di sisi lain, Pahala tak menampik bahwa kreatifitas tetap dibutuhkan dalam menyusun rencana-rencana strategis pengembangan green industry cluster.
“Ini butuh kreatifitas dalam menstructure transaksinya, menstructure bagaimana bisa ada kerja sama dan tentu ada peran dari regulator untuk mendukung hal tersebut,” tambah dia.
Beberapa waktu lalu, dia juga menyampaikan sudah terdapat perjanjian kerja sama antara ACWA Power, PT PLN (Persero), dan PT Pupuk Indonesia (Persero) dalam pengembangan green hydrogen dan green ammonia di KEK Gresik.
“Termasuk PTPN juga nantinya berperan sebagai pihak yang memiliki lahan untuk bersama mengembangkan pembangkit listrik dan produksi green hydrogen,” kata Pahala.
Saat hadir dalam penandatanganan perjanjian studi pengembangan antarketiga pihak itu, Pahala menekankan kolaborasi ACWA Power, Pupuk Indonesia, dan PLN merupakan tindak lanjut dari pengembangan energi bersih yang sebelumnya telah dilakukan di green industry cluster di Aceh.
“Kementerian BUMN mendukung kerjasama pengembangan green hydrogen dan green ammonia yang dilakukan oleh Pupuk Indonesia, PLN, dan ACWA Power Company. Kerjasama ini dalam rangka mengembangkan energi bersih di Jawa Timur khususnya di Kawasan Petrokimia Gresik,” sebut dia.
Diketahui, perjanjian studi bersama itu akan diimplementasikan dengan pembangunan pabrik green hydrogen dan green ammonia di Kawasan Industri Petrokimia Gresik, Jawa Timur dengan potensi sumber energi bersih dari PLTS dan PLTB berkapasitas maksimum 200 MW.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman berharap kerja sama dengan ACWA Power dan PT PLN (Persero) bisa menguntungkan bagi seluruh pihak, baik bagi investor maupun pelaku industri di dalam negeri.
“Kami bersama PLN dan ACWA Power Company akan mengevaluasi konversi green hydrogen menjadi green ammonia dengan fasilitas Gresik Ammonia yang sudah ada dan membuka peluang kerja sama dengan offtaker green ammonia jangka panjang,” ungkap Bakir.
Sebagai informasi, green hydrogen merupakan hidrogen yang diperoleh dari sumber bersih tanpa emisi karbon. ACWA Power sendiri tengah menggarap proyek green hydrogen NEOM di Arab Saudi dengan kebutuhan energi hijau hingga 40 GW atau menjadi proyek hidrogen hijau terbesar di dunia.
Lebih lanjut, Pahala Mansury menyampaikan sudah banyak joint study atau joint development yang sudah dilaksanakan. Komitmen dan kemampuan untuk mengeksekusi pengembangannya pun ia harapkan bisa terlaksana mengingat green economy di Indonesia masih berada pada tahap awal.
“Sehingga diharapkan ada kerja sama antarseluruh pemain dengan pemain utama, khususnya PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero). Jadi, public private partnership dengan pihak asing juga kita harapkan bisa terdorong guna menemukan titik temu dalam pengembangan EBT,” tegasnya.
Penulis: Yoseph Krishna
Editor: Rheza Alfian
Sumber: https://www.validnews.id/ekonomi/pemerintah-jadikan-industri-hijau-sebagai-sarana-transisi-energi