Ilustrasi - Warga menggunakan masker saat menuju halte Transjakarta Setiabudi Utara Aini, Jakarta. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc/pri.
Jakarta (Industrial News) – Kualitas udara di Jakarta pada Kamis pagi masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.
Dilansir dari Antara, berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.10 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 171 atau masuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5 dan nilai konsentrasi 84 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut menunjukkan tingkat kualitas udara tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau dapat menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.
Situs tersebut juga merekomendasikan terkait kondisi udara di Jakarta, yaitu bagi masyarakat sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan. Jika berada di luar ruangan, gunakanlah masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.
Sedangkan untuk kategori baik, yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.
Kemudian, kategori sedang, yaitu kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan, tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.
Lalu, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, kategori berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.
Kota dengan kualitas udara terburuk urutan kedua, yaitu Tashkent (Uzbekistan) di angka 156, urutan ketiga Hanoi (Vietnam) di angka 153, urutan keempat Lahore (Pakistan) di angka 153, dan urutan kelima Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) di angka 139.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup mengajak seluruh warga Jakarta mengambil peran nyata menjaga kualitas udara melalui gerakan kolaboratif #SatuLangkahDulu.
“Melalui kampanye #SatuLangkahDulu, kami ingin membangun semangat satu pesan dengan beragam aksi, baik melalui kampanye media sosial, aksi bersama, praktik baik pengurangan pencemaran udara, maupun challenge untuk warga Jakarta,” kata Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Purwanti Suryandari pada 26 Mei 2026.
Kampanye yang diinisiasi melalui forum Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Kluster Udara itu mendorong seluruh elemen masyarakat untuk memulai langkah sederhana dari lingkungan masing-masing demi mewujudkan udara Jakarta yang lebih bersih dan sehat.
Gerakan tersebut melibatkan pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, media, hingga masyarakat luas untuk mengurangi sumber emisi, menggunakan transportasi ramah lingkungan, hingga membangun kebiasaan hidup yang lebih peduli terhadap kualitas udara. [*]