5 Agustus 2026

Senator asal Jatim Dr Lia Istifhama, hadir sebagai tamu dalam Podcast Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Surabaya (Industrial News) – Senator muda asal Jawa Timur, Dr Lia Istifhama, hadir sebagai tamu dalam Podcast Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Dalam perbincangan yang berlangsung hangat dan penuh kedekatan, ia membagikan perjalanan hidup, nilai yang membentuk karakternya, serta komitmennya memperjuangkan kepentingan daerah melalui peran di DPD RI.

Dikenal sebagai salah satu perempuan milenial yang aktif di tingkat nasional, Ning Lia menuturkan bahwa kiprahnya hari ini tidak lahir begitu saja. Masa kecil, pendidikan, serta lingkungan keluarga menjadi fondasi penting yang membentuk kepemimpinannya. Perbincangan ini dipandu oleh Dr. Sunanto, dosen S1 PGSD Unusa, pada Kamis (11/12).

Saat ditanya tentang tantangan menjadi perempuan muda yang memegang amanah politik sekaligus peran domestik, Ning Lia menegaskan bahwa keseimbangan adalah kunci.

“Saya belajar memahami ritme hidup. Ada masa untuk keluarga, ada masa untuk bekerja. Yang penting disiplin, amanah, dan komunikasi. Perempuan bisa kuat, tapi tetap hangat,” ujarnya.

Bagi Lia, perempuan inspiratif bukan hanya yang tampil di panggung publik, tetapi juga mereka yang mampu menjaga amanah keluarga dan sosial dengan keteguhan hati.

Dalam percakapan tersebut, Ning Lia juga menyoroti pentingnya pembangunan jangka panjang yang tidak mudah berubah karena pergantian kepemimpinan. Ia menegaskan perlunya Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) sebagai arah bersama yang kokoh.

“PPHN bukan hanya dokumen. Ini fondasi agar pembangunan tidak berubah setiap lima tahun. Bangsa ini butuh arah yang jelas untuk tetap kokoh,” tuturnya.

Pandangan tersebut lahir dari berbagai diskusi yang ia lakukan bersama akademisi dan pakar kebijakan selama menjalankan tugasnya.

Putri ulama besar KH Maskur Hasyim itu kemudian mengenang masa remajanya, saat ia mulai gemar menulis cerita pendek dan catatan harian. Salah satu momen penting terjadi ketika tulisannya dibaca sang kakak.

“Saya kaget waktu kakak bilang, ‘Siapa yang nulis? Bagus sekali ceritanya.’ Dari situ saya merasa mungkin saya punya bakat,” kenangnya dengan senyum hangat.

Sejak itu, ia semakin aktif menulis, termasuk pesan reflektif tentang kemanusiaan. Salah satu kalimat yang ia tulis untuk anak-anak di daerah konflik berbunyi: “Di mana pun kamu berada, jangan pernah merasa sendiri. Di luar sana selalu ada orang yang mengingatmu dan menyayangimu.”

Bagi Ning Lia, menulis bukan hanya hobi, melainkan ruang untuk menumbuhkan empati—nilai yang kemudian menjadi dasar kiprahnya sebagai senator.

Sebagai perempuan milenial, ia tak jarang mendapat pertanyaan soal usia. Namun baginya, kemudaan sejati bukan soal angka.

“Pada akhirnya saya sadar, semangatlah yang membuat kita tetap relevan,” katanya.

Perempuan yang peduli pada isu pendidikan, kesehatan, dan lingkungan ini ingin hadir sebagai sosok kakak bagi mahasiswa—bukan figur publik yang terasa jauh. Latar pendidikan Islam dan ekonomi membuatnya terbiasa memadukan nilai moral, spiritual, dan humanisme dalam melihat isu global, termasuk Palestina.

“Melihat orang bersepeda sambil membawa bendera Palestina itu menyentuh hati saya. Itu tanda bahwa dunia semakin peduli,” ungkap penerima DetikJatim Award 2025 tersebut.

Senator yang juga dinobatkan sebagai Wakil Rakyat Terpopuler dan Paling Disukai versi ARCI 2025 itu kemudian menyampaikan pesan penuh kekuatan untuk perempuan muda yang ingin berkiprah di ruang publik:

“Beranilah membaca realitas. Jangan berhenti belajar. Pegang integritas. Dunia publik membutuhkan perempuan yang kuat, cerdas, dan berhati lembut,” pungkasnya. [*]