24 April 2026

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri memberikan pemaparan dalam "1st International Environment Forum 2026: Sawit Merusak Lingkungan?" di Jakarta, Rabu (22/4/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi pribadi.

Jakarta (Industrial News) – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan industri sawit di tanah air telah menerapkan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan sesuai tuntutan pasar global terhadap komoditas perkebunan tersebut.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri menyatakan lahan sawit bukan deforestasi karena para pelaku industri sawit wajib memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sesuai dengan Permentan Nomor 33 Tahun 2025 di mana di dalamnya mengatur aspek lingkungan serta tata kelola lahan secara legal.

“Standar yang kita berikan bisa diakui oleh negara lain. Sebagai produsen sawit terbesar dunia, pada dasarnya kita memiliki nilai keberlanjutan yang sama secara universal. Sawit ramah terhadap lingkungan yang kita pijaki dan memberikan dampak positif pada lingkungan dan keberlanjutan,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, seperti dilansir dari Antara.

Dia menyebutkan ada kontribusi yang sangat kuat sawit untuk energi dan pangan, apalagi Indonesia akan masuk B50 yakni penggunaan minyak sawit sebesar 50 persen untuk bahan bakar nabati atau biofuel pada Juli 2025.

Dalam konteks global, tambahnya, sawit Indonesia memiliki kontribusi sebanyak 62 persen dalam pasokan sawit dunia dan memiliki kontribusi lebih dari 54 persen dibandingkan minyak nabati dunia karena produktivitas sawit sendiri lebih besar 5-10 persen dibandingkan minyak nabati lainnya.

Sementara itu, data publikasi statistik Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyebutkan Indonesia memiliki luas areal kelapa sawit terbesar dunia yang mencapai 16,83 juta hektare (data 2025 dan 2026).

Selain menjadi penyumbang devisa non migas terbesar dengan nilai sekitar Rp 440 triliun pada 2024, industri sawit telah menyediakan lapangan kerja bagi 16 juta orang serta menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi lokal dengan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan.

“Jadi sawit merupakan komoditas strategis nasional yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia,tak hanya pangan tetapi juga energi,” katanya saat memberikan pemaparan dalam “1st International Environment Forum 2026: Sawit Merusak Lingkungan?”.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Musdhalifah Machmud menegaskan berbagai tuduhan terhadap industri kelapa sawit kerap tidak disertai pemahaman yang utuh dan berbasis data.

Data dari World Wide Fund for Nature United Kingdom menyebutkan bahwa perkebunan kelapa sawit dunia hanya menggunakan sekitar 6-11 persen dari total lahan yang digunakan untuk produksi minyak nabati dunia.

“Saat ini untuk penggunaan lahan sawit di dunia itu hanya 28,85 juta hektar tapi mampu memproduksi 80 juta ton minyak nabati. Kontribusi kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia adalah sekitar 34 persen hanya dengan menggunakan 7 persen lahan dunia,” ujar dia.

Menurut produktivitas kelapa sawit dalam menghasilkan minyak sangat besar, selain itu efisien dalam penggunaan lahan jika dibandingkan dengan minyak nabati lain.

“Padahal, penggunaan lahan untuk vegetable oil misalnya soybean sebanyak 100-200 juta hektar tetapi kontribusinya hanya sekitar 15-20 persen,” katanya.

Dia menegaskan apabila produksi minyak sawit digantikan oleh komoditas lain seperti kedelai atau bunga matahari, maka kebutuhan lahan akan meningkat drastis, bahkan, untuk menggantikan volume yang sama, dunia membutuhkan tambahan hingga ratusan juta hektare lahan baru.

Ke depan Musdhalifah menegaskan industri sawit harus terus memperkuat keberlanjutan, meningkatkan produktivitas serta memperbaiki komunikasi global. [*]