Anggota DPD RI Dr Lia Istifhama
Surabaya (Industrial News) – Anggota Komite III DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa pemanasan global yang telah meningkatkan suhu rata-rata bumi sebesar 0,76 derajat Celsius dalam 150 tahun terakhir harus menjadi alarm bagi Indonesia untuk memanfaatkan peluang investasi hijau secara serius.
Menurut Legislator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia ini, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam investasi ramah lingkungan. Namun, kesiapan sumber daya manusia, kepastian regulasi, serta budaya kolaborasi harus terus ditingkatkan agar peluang tersebut dapat dioptimalkan.
Putri kharismatik ulama Jawa Timur itu juga mengingatkan bahwa tantangan utama bukan sekadar pendanaan, melainkan kemampuan masyarakat beradaptasi dengan perubahan sosial ekonomi di tengah derasnya transformasi digital. Ia menekankan perlunya mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pelaku ekonomi hijau yang kreatif dan kompetitif.
Dalam forum yang sama, perwakilan dari pihak “Ibu Gracia” menyoroti hasil PISA 2022 yang menempatkan Indonesia pada posisi yang masih memerlukan banyak perbaikan. Menurutnya, peningkatan kecakapan kognitif, khususnya numerasi, menjadi fondasi penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus memaksimalkan peluang investasi hijau.
Gracia menegaskan bahwa kemampuan berpikir matematis bukan sekadar urusan akademik, tetapi prasyarat agar Indonesia mampu bersaing secara global dan mengembangkan investasi hijau yang berkelanjutan. Ia juga menyoroti isu fiskal di BUMN, mempertanyakan apakah perangkat manajemen risiko, seperti yang diatur dalam Permen BUMN No. Per-5/MBU/09/2022 serta SK-6 Teknis Manajemen Risiko telah diterapkan secara optimal.
Menurutnya, apabila prinsip kehati-hatian (prudential) di BUMN dijalankan secara maksimal, risiko fiskal dapat diminimalkan. Namun tanpa SDM yang kuat dan manajemen risiko yang baik, sulit bagi Indonesia untuk meraih manfaat optimal dari investasi hijau sambil menjaga stabilitas ekonomi.
Sementara itu, “Ibu Yuli” yang turut menjadi pembicara menghadirkan perspektif penting terkait peran BUMN dan sektor komersial, termasuk pariwisata. Ia mengingatkan bahwa BUMN tidak boleh hanya berfokus pada profit, tetapi juga harus mendorong pembangunan ekonomi daerah—terutama di kawasan Timur Indonesia.
Yuli mencontohkan lamanya waktu transit di sejumlah bandara Indonesia Timur yang sebenarnya dapat menjadi peluang untuk menggerakkan ekonomi lokal. Jika dikelola dengan baik oleh maskapai pelat merah, momentum ini bisa menciptakan efek ekonomi berantai, bukan sekadar menjadikan bandara sebagai titik logistik semata. Dengan demikian, investasi hijau dan pariwisata dapat berjalan selaras dan memberikan manfaat yang lebih merata.
Dalam konteks pendidikan dan penguatan SDM, hasil PISA 2022 memang menunjukkan peningkatan posisi Indonesia: literasi membaca naik lima peringkat, matematika lima peringkat, dan sains enam peringkat dibanding 2018. Meski begitu, skor rata-rata Indonesia masih berada di bawah standar global. Di bidang matematika, misalnya, banyak siswa belum mencapai kompetensi dasar, sementara jumlah siswa berprestasi tinggi (level 5–6) masih sangat kecil.
Situasi ini menjadi refleksi bahwa peningkatan kualitas guru, metode pembelajaran, serta penguatan keterampilan kognitif mendesak dilakukan agar generasi muda mampu menghadapi tantangan global dan kompetisi ekonomi masa depan.
Pertemuan Komite III DPD RI menunjukkan bahwa isu pemanasan global, investasi hijau, kualitas SDM, dan manajemen risiko BUMN tidak berdiri sendiri. Semua saling terhubung. Tanpa SDM yang unggul dan tata kelola yang baik, peluang besar akan sulit terwujud secara adil dan berkelanjutan. Karena itu, transformasi literasi, numerasi, dan kesadaran kolektif menjadi kunci menuju masa depan Indonesia yang lebih tangguh. [*]