Anggota DPD RI Lia Istifhama memanjatkan doa untuk para korban bencana alam yang ada di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Surabaya (Industrial News) – Kesedihan mendalam menyelimuti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat setelah hujan ekstrem dari Siklon Tropis Senyar melanda wilayah tersebut. Rumah-rumah berubah menjadi reruntuhan dan ribuan keluarga terpaksa mencari perlindungan di lokasi pengungsian.
Di tengah kabar memilukan itu, anggota DPD RI Lia Istifhama mengajak seluruh masyarakat Indonesia memanjatkan doa bersama untuk Sumatra. Ia berharap kehadiran doa dapat menjadi penguat bagi warga yang sedang menghadapi bencana.
“Semoga Allah memberikan kekuatan, perlindungan, dan ketabahan kepada saudara-saudara kita di Aceh, Sumut, dan Sumbar,” uca Ning Lia dengan penuh simpati. Ia menekankan bahwa duka yang dirasakan masyarakat Sumatra juga menjadi duka seluruh bangsa.
Senator asal Jawa Timur tersebut menilai bahwa musibah ini tidak hanya merusak fisik wilayah, tetapi juga mengguncang ketenangan warga. Namun, ia melihat semangat gotong royong terus mengalir melalui bantuan relawan dan kepedulian masyarakat dari berbagai daerah.
“Jika satu daerah tertimpa bencana, seluruh Indonesia ikut merasakan dampaknya,” ujar Ning Lia, putri dari KH Maskur Hasyim itu. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan kuatnya rasa persaudaraan yang terjalin di antara rakyat Indonesia.
Ning Lia menambahkan bahwa kejadian ini harus menjadi pengingat untuk menjaga alam secara lebih serius. Upaya mitigasi bencana, menurutnya, harus diperkuat melalui kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.
Ia juga menegaskan bahwa transisi energi merupakan bagian penting dari upaya melindungi generasi mendatang. Pengalihan subsidi dari energi fosil menuju energi bersih perlu dijalankan secara bertahap dan melibatkan partisipasi masyarakat.
Sebagai keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ning Lia mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk terus mendoakan Sumatra. Ia menyampaikan bahwa kebersamaan dan solidaritas akan menjadi kekuatan bagi warga yang sedang dilanda ujian tersebut.
BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa Siklon Tropis Senyar menjadi pemicu utama cuaca ekstrem di berbagai wilayah Sumatra. Bibit Siklon 95B berkembang menjadi siklon pada 26 November 2025 dan memicu banjir serta longsor di banyak daerah.
Peneliti BRIN, Erma Yulihastin, menyebut fenomena tersebut hampir tidak pernah terjadi di sekitar garis khatulistiwa. Sementara itu, Walhi mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan dan masifnya aktivitas ekstraktif turut memperburuk efek bencana.
Sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumut, Riau, dan Sumbar kini berada dalam status siaga cuaca ekstrem. Di Sibolga, belasan kelurahan mulai dari Angin Nauli hingga Pasar Belakang berada pada zona rawan longsor.
Survei UNDP menunjukkan bahwa 60 persen masyarakat semakin cemas terhadap dampak krisis iklim. Selain itu, 86 persen warga berharap pemerintah memperkuat langkah-langkah mitigasi dan adaptasi.
BNPB juga mencatat peningkatan signifikan kejadian bencana hidrometeorologi dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan cuaca yang drastis, suhu ekstrem, hingga gagal panen menjadi bukti bahwa krisis iklim semakin nyata.
Pemerintah telah merancang berbagai upaya adaptasi seperti sistem peringatan dini, Sekolah Lapang Iklim, dan pengembangan transisi energi. Namun, RUPTL 2025–2034 masih memuat rencana pembangunan PLTU dan PLTG baru yang dinilai dapat memperlambat percepatan energi terbarukan.
Presiden telah mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional yang menargetkan porsi energi surya mencapai 32 persen pada 2060. Meski begitu, sejumlah ketentuan masih mempertahankan subsidi energi fosil yang berpotensi menghambat laju energi bersih. [*]