16 Juni 2026

Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Roslan Roeslani menyampaikan keterangan di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6/2026). CEO Danantara Roslan Roeslani mengungkapkan permintaan pembelian obligasi global (global bond) mencapai 4,6 miliar dolar AS atau tiga kali lipat dari nilai penerbitan sebesar 1,5 miliar dolar AS dengan investor dari Amerika Serikat mendominasi pembelian yang menunjukkan kuatnya kepercayaan pasar global terhadap Indonesia. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/bar

Jakarta (Industrial News) – ​Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyatakan akan mengadopsi metode pendekatan jangka panjang dalam pengelolaan portofolio investasi negara guna memitigasi dampak guncangan ekonomi global terhadap pasar modal dalam negeri.

“Saya selalu melihatnya, dan saya sampaikan juga di dalam Danantara, kita selalu lihatnya adalah ‘long term approach’ gitu ya, baik pada saat kita berinvestasi langsung (maupun) tidak langsung,” kata Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani di Ruang Sidang Kabinet Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, seperti dilansir dari Antara.

Penegasan mengenai komitmen tersebut ditujukan untuk memberikan kepastian regulasi bagi penanam modal institusional yang membutuhkan stabilitas hukum dalam menaruh kapital. Pemerintah optimistis pola investasi jangka panjang ini mampu menjaga ketahanan instrumen finansial domestik dari dinamika eksternal, ujar dia.

Menurut Rosan, dinamika kenaikan dan penurunan harga saham saat ini dinilai hanya sebagai bagian dari siklus teknis pasar finansial semata. Pergerakan harian tersebut dipastikan tidak akan mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi jangka menengah nasional.

Langkah Danantara dalam menerapkan strategi tersebut juga selaras dengan karakteristik pelaku pasar modal internasional yang menerapkan investasi berbasis data fundamental ekonomi, kata Rosan. Mereka cenderung tidak melakukan perdagangan harian atau mencairkan aset dalam durasi singkat di bursa saham domestik.

Ia mengatakan sikap investor eksternal disebut tidak akan melakukan likuidasi portofolio investasi secara instan saat menghadapi fluktuasi penurunan harga saham dalam hitungan pekan. Keputusan investasi mereka tetap bertumpu pada transparansi serta tata kelola emiten yang tercatat di bursa efek.

Rosan menambahkan bahwa para investor dunia selalu melihat investasi untuk jangka panjang, sementara investor di dalam negeri terutama sektor riil cenderung memiliki cara pandang jangka pendek.

“Jadi mereka lihat secara fundamentalnya seperti apa. Faktor teknikalnya pasti up and down-nya itu mempengaruhi. Tetapi kalau dilihat kebijakan dan persepsinya itu positif, mereka akan terus melihat investasi ini untuk bisa berkembang ke depannya,” ujar dia. [*]