
PT Kawasan Industri Wijayakusuma (Persero) atau KIW menjalankan transformasi karena adanya ancaman pendapatan yang stagnan, bahkan menurun. Sebab, sebagaimana dituturkan Ahmad Fauzie, Direktur Utama KIW, status lahan kawasan industri yang dikelola oleh perusahaan ini adalah Hak Guna Bangunan (HGB) murni.
Cikal bakalnya adalah Kawasan Industri Cilacap yang dirikan tahun 1988. Kemudian, tahun 1998 dipindah ke Semarang dan menyandang nama Kawasan Industri Wijayakusuma, yang mengelola kawasan industri seluas 200 hektare.
Dengan kawasan industri berstatus HGB, masalah yang dihadapinya adalah lokasinya terbatas, persediaan lahan semakin terbatas dan diperkirakan akan habis dalam lima tahun ke depan, juga sumber revenue terbatas. “Karena itu, kami memfokuskan strategi berupa transformasi bisnis,” ujar Ahmad Fauzie.
Ia menjelaskan, transformasi bisnis KIW yang dicanangkan dibagi dalam tiga fase. Dalam fase pertama transformasi tahun 2018-2021, perusahaan ini mengubah revenue portfolio. Kemudian, fase kedua (tahun 2022), KIW mulai dengan memperkuat fundamental, dan nanti di tahun 2023 dan seterusnya akan fokus pada pengembangan bisnis-bisnis baru untuk recurring revenue.
Yang sudah dilakukan manajemen KIW sejak 2018 adalah, pertama, diversifikasi, dengan mendirikan anak perusahaan (PT Putra Wijayakusuma Sakti) untuk mengoptimalkan semua potensi bisnis yang ada. “Karena dalam kawasan industri itu ada peluang bisnis lain, seperti outsourcing, logistik, konstruksi, dan transportasi, yang selama ini belum digarap. Makanya, dengan vehicle ini, kami yakin akan bisa menggarap semua peluang itu,” kata Ahmad Fauzie.
Kemudian, kedua, intensifikasi. Dengan memiliki sisa lahan 60 ha, Ahmad Fauzie mengaku tidak mau menjual semuanya, tetapi akan memanfatkannya secara mix-use. Artinya, ada yang dijual, dibuat warehouse atau pergudangan, dan ada yang untuk area komersial. Tujuannya, perusahaan memiliki pendapatan yang berkelanjutan.
Yang ketiga, ekstensifikasi. Pada 2018, belum ada Perpres No. 109 tahun 2020 (Perubahan Ketiga atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional), tapi saat itu KIW sudah punya visi untuk membuat kawasan baru yang inline dengan tujuan pemerintah mengeluarkan Perpres tersebut. Maka, di tahun 2020 didirikan PT Kawasan Industri Terpadu Batang (pembangun dan pengelola kawasan industri Batang), yang merupakan joint venture antara KIW, PT PP (Persero), PTPN 9, dan Perusahaan Daerah (Perusda) Batang. “Ini jadi momentum kami untuk melompat lebih tinggi,” ujar Ahmad Fauzie.
Dia lalu menjelaskan bagaimana transformasi fase pertama dijalankan. “Kami bangun business line-nya. Itu bukan sekadar ‘nice to have’, tapi kami datangi satu per satu direktur utama perusahaan yang menjadi calon tenant KIW. Saya tanyakan, apa mereka mau menjadi tenant kami dan apa yang mereka butuhkan,” tuturnya.
Dari situlah kemudian dia melihat peluang bisnis baru, seperti katering, pengiriman barang, logistik, dan outsourcing pegawai. Jadi, peluang tersebut datang setelah manajemen KIW menggali atau mencari potensial riil dari para tenant-nya ataupun calon tenant.
Hasilnya, portofolio revenue KIW pun bergeser. Tahun 2018, 77% pendapatan perusahaan ini berupa non-reccuring revenue dan 23% reccuring revenue. Kemudian, tahun 2019, recurring revenue terus meningkat dan ditambah lagi kontribusi dari bisnis baru. Dan, pada 2021, dari total pendapatan KIW senilai Rp 330 miliar, yang bersumber dari non-reccuring revenue tinggal 23%, pendapatan reccuring kontribusinya turun menjadi hanya 15% meskipun nilainya makin besar, dan kontribusi bisnis baru naik menjadi 62%.
“Fase pertama sudah on the track. Dan, sekarang kami fokus supaya lima tahun ke depan fondasi perusahaan makin kuat dan bisnisnya makin kencang,” ungkap Ahmad Fauzie.
Untuk transformasi kedua, KIW memulainya dengan penguatan fundamental, yang meliputi tiga aspek, yakni aspek legal, infrastruktur, dan bisnis. Dia menjelaskan, dari aspek legal, yang dilakukannya adalah penguatan dan penyempurnaan aspek legal di KIW Group.
Kemudian, penguatan infrastruktur bisnis, yang mencakup sumber daya manusia, sistem teknologi informasi, dan digitalisasi prosedur perusahaan di KIW Group. Dan, aspek bisnis adalah penguatan business development untuk peningkatan recurring income KIW Group melalui kerja sama dengan BUMN, BUMD, dan swasta.
Ahmad Fauzie berharap, dalam lima tahun yang akan datang bisnis-bisnis baru KIW bisa terwujud. Bisnis baru yang akan digarap perusahaan ini antara lain cold storage, food court dan cloud kitchen, incinerator, multipurpose storage, sport center, storage estate, shopping arcade, co-living, dan lifestyle mall. Menurutnya, demand terhadap bisnis-bisnis baru tersebut akan muncul seiring dengan mobilitas penduduk Indonesia.
“Kenapa ada lifestyle mall? Karena, pengembangan KIT di Batang itu akan menciptakan kota baru karena di dalamnya akan ada kawasan industri yang terpadu dengan kompleka pemukiman, dengan semua fasilitas penunjang, termasuk fasilitas hiburan atau belanja seperti mal,” Ahmad Fauzie menerangkan.
Kemudian, di tahun 2026 dia akan mengoneksikan ekosistem KIW di Batang dan KIW Group di Semarang. Atau, lebih tepatnya, pihaknya akan melakukan innovative and integrated estate management yang didukung oleh sustainable recurring income. “Dan, kami terbuka terhadap peluang-peluang baru, termasuk mendirikan dry-port misalnya,” Ahmad Fauzie menegaskan.
Author: Arie Liliyah