25 April 2026
Sumber: https://www.industry.co.id/read/112782/kemenperin-industri-cpo-dan-turunannya-hidupi-20-juta-orang-hingga-buka-kawasan-industri-baru

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong hilirisasi industri crude palm oil (CPO) di Tanah Air. 

Pasalnya, hilirisasi secara kualitatif industri CPO sangat membantu dalam membangun pusat-pusat ekonomi di luar Pulau Jawa, juga aktivitas produktif di daerah 3T yaitu Terluar, Tertinggal, Terpencil, serta menjaga kedaulatan ekonomi dalam hal ini adalah substitusi impor.

Hal tersebut dipaparkan Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), di Kompleks Parlemen, dikutip Tempo (13/9) kemarin.

Selain itu, lanjut Putu, industri CPO dan turunannya juga menumbuhkan aglomerasi atau kawasan industri baru berbasis sawit. 

Ia mencontohkan keberhasilan itu di beberala daerah seperti Dumai, Sei Mangke, Kuala Tanjung, Tarjun, Bitung, dan lainnya.

Untuk kontribusi kuantatifnya, Putu mengatakan, industri CPO dan turunannya menyerap kurang lebih 5,2 juta orang atau menghidupi sekitar 20 juta orang. 

Sedangkan nilai ekonomi hulu hilirnya itu diperkirakan sekitar Rp 750 triliun, dimana nilai ekspornya itu pada 2021 mencapai sekitar US$ 35,79 miliar atau sekitar kurang lebih Rp 500 triliun.

“Jadi kontribusi pajak terhadap PDB cukup besar yaitu 3,5% dan pendapatan pajaknya sekitar Rp20 triliun serta pungutan ekspor dan bea keluar itu kurang lebih Rp86 triliun,” tutur Putu.

Dia menilai hilirisasi industri CPO dan turunannya cukup berhasil. Hal itu bisa dilihat dari beragamnya jenis produk yang dihasilkan. 

Pada tahun 2011 ini, Putu berujar, Indonesia baru bisa memproduksi 54 jenis produk, sementara di tahun 2021 sudah mencapai 168 jenis produk.

Selain itu, jika di tahun 2010, 60% ekspornya dalam bentuk bahan baku CPO, tapi pada tahun 2021 yang diekspor dalam bentuk CPO sudah sangat kecil yaitu 9,27%.

“Jadi sebagian besar sudah dihilirisasi,” terang Putu.

Sementara jika melihat nilai tambahnya juga cukup besar itu di biodiesel FAME yang angkanya 1,41 kali lebih daripada CPO; margarin dan lemak sekiar 1,86 kali; minyak goreng 1,31 kali; surfaktant 2,06 kali; dan kosmetik 3,88 kali.

Selain itu, kebijakan pengembangan dan langkah konkret Kemenperin yang saat ini dilakukan adalah mengembangkan Food Fitonutrient, Fine Chemical, Fuil Liquid, dan Fiber Biomass. 

Menurut Putu, itu akan sangat membantu memperluas kegiatan ekonomi produktif dan juga akan sangat membantu dalam menyehatkan neraca perdagangan.

Langkah itu juga disebutnya bisa menggerakkan daerah-daerah produsen kelapa sawit dan juga sangat berperan nantinya dalam mengendalikan emisi gas rumah kaca.

“Serta kedaulatan pangan dan energi dan juga akan mendapatkan keuntungan di dalam operasi hulu hilir yang ramah lingkungan,” tutup Putu Juli Ardika.

Author: Ridwan

Sumber: https://www.industry.co.id/read/112782/kemenperin-industri-cpo-dan-turunannya-hidupi-20-juta-orang-hingga-buka-kawasan-industri-baru