Surabaya (Industrial News) – Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) merilis hasil survei terbaru mengenai preferensi politik generasi muda Jawa Timur terhadap sejumlah tokoh yang berpotensi maju pada Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2029.
Survei dilakukan pada 25 Juni hingga 5 Juli 2026 terhadap 1.200 responden berusia 17–40 tahun yang tersebar secara proporsional di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Pengambilan sampel menggunakan metode Stratified Multistage Random Sampling dengan margin of error ±2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil survei menunjukkan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak masih menjadi pilihan utama generasi muda dengan tingkat elektabilitas sebesar 32,1 persen. Di posisi kedua muncul Lia Istifhama dengan elektabilitas 17,5 persen, disusul Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi 10,3 persen, Ahmad Fauzi 7,7 persen, Muhammad Fawait 5,8 persen, Muhammad Nur Arifin 5,2 persen, Yuhronur Efendi 4,1 persen, Aditya Halindra Faridzky 3,9 persen, dan Hanindhito Himawan Pratama 2,1 persen. Sebanyak 7,1 persen responden memilih nama lain, sementara 4,2 persen mengaku belum menentukan pilihan.
Direktur ARCI, Nanang Haromain, menjelaskan bahwa survei ini secara khusus memotret preferensi pemilih muda berusia 17–40 tahun, kelompok yang diproyeksikan akan menjadi salah satu penentu arah politik Jawa Timur pada masa mendatang.
Menurut Nanang, hasil survei menunjukkan Emil Dardak masih menjadi figur dengan posisi paling kuat di kalangan generasi muda. Elektabilitas yang mencapai 32,1 persen mencerminkan tingginya tingkat pengenalan sekaligus penerimaan publik terhadap Emil di kelompok usia produktif.
Meski demikian, Nanang menilai posisi tersebut belum sepenuhnya aman. Sebab, sekitar dua pertiga responden masih berada di luar basis dukungan Emil sehingga peluang bagi kandidat lain untuk meningkatkan elektabilitas masih terbuka lebar.
“Emil Dardak memang memimpin cukup jauh pada survei kali ini. Namun angka 32,1 persen belum dapat dianggap sebagai posisi yang aman karena mayoritas pemilih muda masih berada di luar basis dukungannya. Artinya, kontestasi menuju Pilgub Jawa Timur masih sangat terbuka,” ujarnya.
Nanang juga menyoroti munculnya Lia Istifhama sebagai kandidat dengan elektabilitas tertinggi kedua. Menurutnya, capaian 17,5 persen menjadi salah satu temuan paling menarik dalam survei kali ini.
Sebagai figur yang bukan kepala daerah aktif, Lia dinilai berhasil membangun tingkat pengenalan dan dukungan yang cukup signifikan di kalangan generasi muda. Hal itu menunjukkan bahwa komunikasi publik yang konsisten, aktivitas organisasi, serta kedekatan dengan kelompok muda mulai berpengaruh terhadap peningkatan elektabilitasnya.
“Lia Istifhama menjadi salah satu kejutan dalam survei ini. Sebagai figur yang bukan kepala daerah aktif, elektabilitasnya mampu menempati posisi kedua. Ini menunjukkan bahwa peta politik Jawa Timur mulai mengalami regenerasi dan publik mulai memberi ruang kepada figur-figur alternatif,” kata Nanang.
Sementara itu, Eri Cahyadi memperoleh elektabilitas sebesar 10,3 persen. Menurut ARCI, angka tersebut mengindikasikan bahwa popularitas sebagai kepala daerah di kota terbesar di Jawa Timur belum otomatis terkonversi menjadi dukungan pada level provinsi. Hal ini menunjukkan bahwa perluasan pengaruh politik ke luar daerah asal masih menjadi tantangan bagi sejumlah kepala daerah yang berpotensi maju dalam Pilgub mendatang.
Di luar tiga besar, persaingan masih berlangsung sangat dinamis. Elektabilitas Ahmad Fauzi, Muhammad Fawait, Muhammad Nur Arifin, Yuhronur Efendi, hingga Aditya Halindra Faridzky terpaut tipis sehingga masih sangat mungkin berubah seiring meningkatnya intensitas sosialisasi maupun perkembangan politik menjelang Pilgub 2029.
ARCI juga mengingatkan bahwa selisih elektabilitas di kelompok menengah perlu dibaca secara hati-hati karena berada dalam rentang margin of error sebesar ±2,8 persen. Dengan demikian, perbedaan angka yang relatif kecil belum tentu menunjukkan adanya perbedaan kekuatan politik yang signifikan secara statistik.
Sebaliknya, keunggulan Emil Dardak dinilai relatif lebih stabil karena memiliki selisih yang cukup lebar dibanding kandidat lainnya pada saat survei dilakukan.
Di sisi lain, masih terdapat 11,3 persen responden yang memilih nama lain atau belum menentukan pilihan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang kompetisi masih terbuka dan preferensi politik generasi muda Jawa Timur berpotensi berubah seiring dinamika politik yang berkembang.
“Survei ini memberikan pesan bahwa generasi muda Jawa Timur mulai membentuk preferensi politiknya jauh sebelum tahapan Pilgub dimulai. Mereka tidak hanya mempertimbangkan popularitas, tetapi juga melihat rekam jejak, kedekatan dengan publik, dan kemampuan figur dalam membangun komunikasi,” ujar Nanang.
Ia menutup paparannya dengan menegaskan bahwa Pilgub Jawa Timur 2029 kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan partai politik, tetapi juga oleh kemampuan setiap figur membangun kedekatan emosional dengan generasi muda.
“Kelompok usia 17–40 tahun akan menjadi salah satu penentu utama arah politik Jawa Timur dalam beberapa tahun ke depan,” pungkasnya. [*]