Arsip foto - Foto udara petugas mengangkut sampah yang mengendap di perairan laut Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nz.
London (Industrial News) – Sejumlah samudra menghadapi tekanan “berat” akibat aktivitas manusia setelah laju kenaikan permukaan laut meningkat dalam 10 tahun, demikian laporan yang dipimpin PBB, sehingga mendesak upaya global untuk membatasi dampak polusi dan perubahan iklim.
Tekanan yang “meningkat” itu bersifat kumulatif, meliputi polusi dan industri penangkapan ikan berskala besar, jelas Penilaian Ketiga Samudra Dunia (WOA III).
WOA III adalah satu-satunya penilaian terintegrasi global tentang samudra dunia yang mencakup aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Forum itu menilai keadaan samudra dari 2021-2025, dan merupakan upaya kolektif dari tim penulis antar sektor yang terdiri dari lebih dari 650 ahli dari puluhan negara.
Penilaian tersebut, pada Senin, menggarisbawahi bahwa aktivitas yang disebabkan oleh manusia menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati secara luas dan memberikan “tekanan berat” kepada sistem samudra.
Menurut temuan tersebut, permukaan laut terus naik dengan laju yang semakin meningkat, dari 2 milimeter (0,08 inci) per tahun sebelum 2015 menjadi 4,3 milimeter per tahun pada 2023.
Studi itu juga menemukan bahwa sekitar 16 persen dari total peningkatan kandungan panas laut sejak 1955 telah terjadi sejak 2018.
“Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sumber daya yang tak terbatas. Kolaborasi global yang mendesak diperlukan untuk melindungi ekosistem laut,” tegas Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, menambahkan dunia harus membangun hubungan baru dengan laut yang didasarkan pada sains, dibingkai oleh hukum internasional, dan dibangun atas dasar tanggung jawab bersama di seluruh negara, sektor, dan generasi. [*]