22 Mei 2026

(ki-ka) Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin, dan Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu berfoto bersama usai penandatanganan nota kesepahaman antara KAI dan BTN di Jakarta, Jumat (22/5/2026). (ANTARA/Shofi Ayudiana)

Jakarta (Industrial News) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai membangun hunian vertikal berbasis Transit Oriented Development (TOD) di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta pada Juli 2026, sebagai bagian dari upaya mendukung Program 3 Juta Rumah.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan pembangunan tahap awal proyek tersebut ditargetkan dimulai pada Juli–Agustus 2026, dengan waktu konstruksi sekitar 13 bulan hingga serah terima unit.

“Untuk tahap pertama ini kita akan mulai bangun di Juli–Agustus dan ditargetkan dalam 13 bulan sudah bisa dilakukan serah terima,” ujar Bobby dalam penandatanganan nota kesepahaman antara KAI dan BTN di Jakarta, seperti dilansir dari Antara.

Menurut Bobby, proyek ini merupakan bagian dari pengembangan kawasan Manggarai yang akan diarahkan menjadi pusat bisnis baru atau central business district (CBD) kedua di Jakarta.

KAI menyiapkan lahan sekitar 62 hektare di kawasan Manggarai yang akan dikembangkan tidak hanya untuk hunian, tetapi juga kawasan komersial, bisnis, serta fasilitas pendukung lainnya. Proyek ini dikerjakan oleh anak usaha KAI yakni PT KA Properti Manajemen.

Bobby menuturkan untuk tahap awal pengembangan di kawasan Manggarai, proyek akan dibangun di atas lahan sekitar 2,2 hektare dengan pembangunan tiga tower pertama.

Selanjutnya, proyek akan dilanjutkan pada area sekitar 1,6 hektare untuk pengembangan delapan tower hunian vertikal dengan total sekitar 5.000 unit.

Menurut Bobby, hunian vertikal ini dirancang dengan konsep terintegrasi dengan transportasi publik guna mendukung mobilitas masyarakat perkotaan.

Lokasinya yang berada di simpul transportasi Manggarai dinilai strategis karena terhubung dengan berbagai moda, seperti KRL, kereta bandara, LRT, dan kereta jarak jauh.

KAI mencatat jumlah pengguna KRL saat ini mencapai sekitar 1,3 juta penumpang per hari, dengan sekitar 300 ribu penumpang naik turun di Stasiun Manggarai.

Menurut dia, tingginya mobilitas masyarakat dari wilayah penyangga ke Jakarta menjadi dasar pengembangan hunian di pusat kota untuk meningkatkan efisiensi waktu dan biaya perjalanan.

Dalam proyek ini, KAI menggandeng BTN untuk mendukung pembiayaan konstruksi maupun kredit pemilikan rumah (KPR).

Hunian yang dikembangkan terdiri atas tipe 2 kamar tidur dengan ukuran sekitar 36 meter persegi hingga 45 meter persegi.

Harga unit diproyeksikan mulai dari sekitar Rp500 jutaan untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sementara unit non-subsidi dipasarkan mulai kisaran Rp700 jutaan hingga di atas Rp1 miliar tergantung tipe dan lokasi tower.

Ke depan, KAI membuka peluang pengembangan hunian serupa di lokasi lain, mengingat perusahaan memiliki aset lahan sekitar 327 juta meter persegi yang tersebar di berbagai kota besar di Jawa dan Sumatera. [*]