Ilustrasi - Pekerja mengangkut kursi di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/rwa/pri.
Jakarta (Industrial News) – Ekonom Keuangan dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee memproyeksikan pasar saham Indonesia akan mengalami pemulihan secara perlahan pada pekan depan.
Ia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak di level support 8.167 sampai 8.000, dan level resistance 8.408 sampai 8.596 pada pekan depan.
“Pasar saham diperkirakan akan pulih perlahan dengan potensi penguatan terbatas di pekan depan, dengan support di level 8.167 sampai level 8.000, dan resistance di level 8.408 sampai level 8.596,” ujar Hans saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, seperti dilansir dari Antara.
Hans mengatakan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk melakukan penangguhan rebalancing indeks saham-saham Indonesia, telah mendorong volatilitas tinggi di pasar saham Indonesia pada pekan lalu.
Merespon pengumuman MSCI tersebut, agenda reformasi dilakukan pasar modal Indonesia, yang meliputi komitmen meningkatkan transparansi dan tata kelola, khususnya terkait kepemilikan saham pada emiten di bawah 5 persen yang ditargetkan pada Februari 2026.
Kemudian, penetapan aturan batas minimal saham publik (free float) dari 7,5 persen menjadi 15 persen yang mulai diproses Februari 2026, dan berlaku bagi emiten baru maupun yang existing.
Selanjutnya, percepatan proses demutualisasi BEI, dengan peraturan terkait ditargetkan terbit pada kuartal I- 2026.
Hans menilai bahwa pelaku pasar akan melihat agenda reformasi pasar modal Indonesia tersebut sebagai sentimen positif, yang dapat mengembalikan kepercayaan mereka.
“Otoritas Indonesia telah mengambil langkah yang lebih proaktif melalui diskusi dan komunikasi publik untuk mengatasi isu-isu krusial, menstabilkan pasar domestik, serta menumbuhkan kembali kepercayaan melalui peningkatan transparansi dan tata kelola,” ujar Hans.
Hans mengingatkan, bahwa tekanan terhadap IHSG juga telah turun pada perdagangan menjelang akhir pekan pada Jumat (30/01), meski aksi jual (net sell) investor asing masih terjadi.
“Tekanan mulai pulih di akhir pekan, tetapi aksi jual investor asing masih terlihat,” ujar Hans.
Dalam kesempatan ini, Hans juga menyinggung terkait sentimen dari mancanegara yang akan mempengaruhi pasar saham Indonesia pada pekan depan.
Ia menjelaskan, pemilihan Mantan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh oleh Presiden Donald Trump dapat menjadi sinyal bahwa The Fed akan tetap independen, dengan berkurangnya potensi pemotongan suku bunga yang agresif.
Hans menilai Warsh akan mendukung pemotongan suku bunga acuan lebih rendah, namun tidak akan melakukan pelonggaran agresif seperti beberapa kandidat lainnya.
“Hal ini mendorong dolar AS pulih dari tekanan jual dan harga emas terkoreksi tajam. Yang saat ini pasar tangkap adalah Warsh hanya satu orang, tidak ada konsensus untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat,” ujar Hans.
Hans memproyeksikan The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali pada 2026, dengan pengurangan sebesar 25 basis poin (bps) berpeluang dilakukan pada Juni 2026.
Terkait risiko geopolitik global, Ia mengatakan potensinya masih tetap tinggi sering Presiden AS Donald Trump yang tengah mempertimbangkan aksi terhadap Iran, termasuk serangan terarah.
Seiring tensi geopolitik tersebut, Ia menjelaskan telah memicu kenaikan harga minyak di tingkat global, akibat kekhawatiran gangguan pasokan.
“Kenaikan minyak tertahan di tengah potensi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina, serta turunnya kemungkinan serangan AS terhadap Iran, karena pemerintahan Trump membuka pintu untuk pembicaraan program nuklir Iran,” ujar Hans.
Data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (30/01) sore, IHSG ditutup menguat 97,41 poin atau 1,18 persen ke posisi 8.329,61. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 20,52 poin atau 2,52 persen ke posisi 833,53.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.399.348 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 57,76 miliar lembar saham senilai Rp41,33 triliun. Sebanyak 551 saham naik, 194 saham menurun, dan 65 tidak bergerak nilainya. [*]