2 Februari 2026

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif (ANTARA/HO-Kemenperin)

Bontang (Industrial News) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari 2026 mencapai 54,12 poin, melonjak 2,22 poin secara bulanan yang menjadikannya tertinggi sejak indeks tersebut pertama kali diluncurkan 49 bulan lalu pada November 2022.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif dalam pernyataan diterima di Bontang, Kalimantan Timur, Jumat, mengatakan penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku industri terhadap prospek usaha di awal tahun.

‎“Capaian ini juga lebih tinggi 1,02 poin dibandingkan Januari 2025, yang menandakan penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap prospek usaha di awal tahun,” ujar dia. ‎

Dari sisi makroekonomi, ia mengatakan stabilitas kebijakan moneter turut menopang kinerja industri. Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 20–21 Januari 2026 lalu dinilai memberikan kepastian bagi dunia usaha, seiring upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi nasional.‎

Sedangkan di sektor riil, aktivitas manufaktur nasional masih berada dalam fase ekspansi. Indeks PMI S&P Global Manufaktur Indonesia pada Desember 2025 tercatat sebesar 51,2, menandai ekspansi selama lima bulan berturut-turut.

Sejalan dengan itu, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) triwulan IV 2025 meningkat menjadi 51,86 persen dan diproyeksikan terus menguat pada triwulan I 2026.

Menurut Febri, struktur IKI Januari 2026 menunjukkan perbaikan yang merata di hampir seluruh subsektor industri pengolahan. Dari 23 subsektor, sebanyak 20 subsektor berada pada fase ekspansi dan hanya tiga subsektor yang masih mengalami kontraksi.

Subsektor yang berada di zona ekspansi tersebut memberikan kontribusi sebesar 94,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.

‎“Kami menilai peningkatan IKI terjadi karena pelaku industri mulai mengintensifkan kegiatan produksi untuk merespons dan memenuhi peningkatan permintaan menjelang bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, serta hari raya keagamaan lainnya,” katanya

Ia mengatakan dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi tercatat pada industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, serta industri mesin dan perlengkapan.

‎“Kenaikan angka IKI pada subsektor ini juga dipengaruhi oleh respon positif pelaku industri terhadap surat Menteri Perindustrian kepada Menteri Keuangan. Meskipun demikian, usulan tersebut masih dalam proses pembahasan antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan,” katanya.

Sementara itu, beberapa subsektor masih mengalami kontraksi, antara lain industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri kayu, barang dari kayu dan gabus, serta industri komputer, barang elektronik dan optik. Kondisi ini dipengaruhi oleh pelemahan permintaan ekspor, faktor musiman, serta dinamika geopolitik global.

Berdasarkan komponen penyusunnya, seluruh variabel IKI Januari 2026 berada di zona ekspansi. Indeks pesanan tercatat sebesar 55,27, indeks produksi melonjak ke level 54,86 setelah sebelumnya mengalami kontraksi selama tujuh bulan berturut-turut, sementara indeks persediaan berada pada level 50,14.

Dari sisi pelaku usaha, survei IKI menunjukkan 78,5 persen responden menyatakan kegiatan usahanya membaik dan stabil. Tingkat optimisme pelaku industri juga meningkat menjadi 72,5 persen, sementara tingkat pesimisme menurun menjadi 4,5 persen.

Penguatan IKI juga tercermin pada kinerja industri berorientasi ekspor yang tercatat sebesar 54,62 pada Januari 2026, serta meningkatnya realisasi investasi industri pengolahan yang mencapai Rp218,2 triliun pada triwulan IV 2025.

‎“Capaian IKI Januari 2026 menjadi modal awal yang kuat bagi industri nasional untuk terus tumbuh berkelanjutan sepanjang tahun 2026,” ujar dia. [*]