Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama datang untuk berziarah ke makam sang ayah, KH Masykur Hasyim.
Surabaya (Industrial News) – Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan, suasana teduh menyelimuti kompleks pemakaman keluarga besar KH Masykur Hasyim, Sabtu (14/2). Di antara doa yang lirih dan tabur bunga yang perlahan jatuh di atas pusara, terselip kerinduan seorang anak kepada ayahandanya.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, atau yang akrab disapa Ning Lia, datang untuk berziarah ke makam sang ayah, KH Masykur Hasyim. Ziarah itu terasa kian bermakna karena bertepatan dengan 14 Februari—hari yang kerap dimaknai sebagai hari kasih sayang. Namun bagi Ning Lia, cinta bukan sekadar simbol, melainkan doa yang tak pernah putus bagi mereka yang telah lebih dahulu berpulang.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia didampingi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang juga merupakan tantenya. Selain mendoakan ayahanda, Ning Lia juga berziarah ke makam kakek-nenek, kakak kandung, serta anggota keluarga lainnya.
Suasana berlangsung khidmat. Dengan penuh ketenangan, senator yang dikenal rendah hati itu menaburkan bunga, lalu memimpin doa bersama. Bagi Ning Lia, ziarah bukan hanya tradisi keluarga, tetapi juga bentuk bakti seorang anak serta momentum refleksi diri menjelang Ramadan.
“Bagi saya, ziarah makam itu penting. Ini momentum untuk mendoakan orang tua dan mengingatkan diri bahwa kita pun akan menyusul. Ramadan adalah bulan penyucian jiwa, maka kita awali dengan doa dan refleksi,” tuturnya.
Ia menegaskan, ziarah kubur memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Ning Lia mengutip hadis Rasulullah SAW dari Ma’qil bin Yasar RA: “Bacakanlah atas orang yang mati di antara kamu dengan bacaan surah Yasin” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).
Dalam kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani juga dijelaskan bahwa Rasulullah SAW kerap berziarah kubur. Dari Ibnu Abbas RA diriwayatkan, Nabi Muhammad SAW pernah melewati kuburan di Madinah dan mengucapkan salam:
“Assalamualaikum ya ahlal-kubur, yaghfirullahu lana wa lakum antum salafuna wa nahnu bil-atsar.”
Artinya: “Keselamatan untuk kamu, wahai ahli kubur. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami dan dosa-dosa kamu. Kamu telah mendahului kami dan kami pun akan menyusul kalian.”
Bagi Ning Lia, ziarah menjadi pengingat akan hakikat kehidupan dan kematian. Tradisi ini, menurutnya, adalah langkah spiritual untuk membersihkan hati, memperkuat silaturahmi keluarga, serta meneguhkan tanggung jawab sebagai hamba Allah.
“Cinta sejati bukan sekadar perayaan, tetapi doa yang terus mengalir untuk orang-orang tercinta yang telah mendahului kita, sekaligus melanjutkan nilai dan perjuangan mereka,” ujarnya pelan.
Di ambang Ramadan, ziarah itu menjadi lebih dari sekadar kunjungan ke pusara. Ia menjelma ruang hening untuk merawat kenangan, meneguhkan niat, dan menapaki bulan suci dengan hati yang lebih bersih. [*]