Sejumlah mahasiswa jurusan teknik instrumentasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan alat pemantau kualitas udara. Mereka adalah mahasiswa yang tinggal di kawasan industri di Gresik, Jawa Timur.
Alat pendeteksi udara ini diciptakan oleh Muhammad Zanuar (21), mahasiswa asal Desa Roomo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Tinggal di lingkungan yang berdekatan dengan kawasan industri, dia pun mengajak 9 temannya untuk membuat alat yang bisa memonitor dan memfilter udara.
Ketika alat menyala sensor mendeteksi konsentrasi partikel dan kandungan gas di udara. Lalu, diproses alat kontrol dan ditampilkan melalui display serta diupload ke cloud situs web. Ketika pembacaan konsentrasi partikel udara dalam ruangan tinggi, maka akan mengaktifkan filtrasi udara.
Muhammad Zanuar menceritakan, ide pembuatan alat pemantau kualitas udara berangkat dari masalah tingginya polusi udara di Desa Roomo, Kecamatan Manyar. Desa ini dikelilingi industri-industri besar.
“Ada banyak aktivitas industri yang membuang emisi gas melalui cerobong ke udara yang menyebabkan tingkat penyakit ISPA di Jabupaten Gresik tinggi,” katanya, Minggu (10/9/2023).
Hal tersebut sangat disayangkan karena tidak adanya instrumen alat ukur dan ketegasan dari pemerintah untuk mengatasi masalah lingkungan dan kesehatan.
“Di Desa Roomo konsentrasi partikulat (PM 2,5)-nya rata-rata nilai 144 yang terbaca di alat saya. Tergantung kondisi lingkungan yang terbaca,” terangnya.
Diketahui, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat indeks standar pencemar udara (ISPU) dibagi menjadi 5 kategori, yakni rentang dengan nilai 1-50, kategori sedang nilai 51-100, kategori tidak sehat rentan nilai 101-200, kategori sangat tidak sehat rentan nilai 201-300 dan kategori berbahaya nilai 300 ke atas.
“Kalau di tabel ISPU, pembacaan di Desa Roomo (nilai 144) masuk kategori tidak sehat. Di Desa Roomo ya mas, karena tidak bisa disamakan dengan daerah lain di Kabupaten Gresik,” ungkapnya.
Dijelaskan, kondisi udara dapat berubah-ubah setiap waktu sehingga saat di aplikasi nanti akan ada tindakan preventif yang disarankan. “Menyesuaikan nilai konsentrasi udaranya mas, ada disarankan tidak beraktivitas di luar ruangan hingga memakai masker saat ke luar rumah,” jelas Zanuar.
Prototipe alat pemantau kualitas udara ini, lanjutnya, sudah beberapa kali dilombakan dan meraih juara. Ajang yang diikuti, antara lain Program Kreativitas Mahasiswa Kreativitas Mahasiswa, Ginofest (Gresik Inovasi dan Workshop Festival), serta Pemuda Pelopor Kabupaten Gresik.
Kemudian ada beberapa kegiatan lingkungan yang dapat dilakukan dalam penanganan polusi udara, antara lain regulasi kebijakan, inovasi instrumentasi, edukasi, dan sosialisasi lingkungan serta penanaman pohon.
Zanuar berharap pengembangan alat pemantau kualitas udara hasil pembacaannya ini dapat dipantau secara publik melalui aplikasi dan dapat terintegrasi dengan website Smartcity Kabupaten Gresik.
“Harapannya bisa menerapkan konsep pentahelix yakni bekerja sama semua stakeholder mulai dari pemuda, masyarakat, komunitas, akademisi, pemerintah, industri, dan media untuk menyelesaikan masalah kesehatan dan lingkungan,” pungkas dia.
Penulis: Ahmad Rifqi Badruzzaman
Editor: BW
