Foto menunjukkan Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/Wang Qiang/aa.
Washington (Industrial News) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (31/8) mengatakan bahwa militer AS tidak menutup kemungkinan dapat kembali menyerang Iran jika diperlukan.
“Para pemimpin mereka (Iran) sebagian besar sudah tewas. Angkatan Laut mereka sudah tidak ada. Angkatan Udara mereka sudah tidak ada. Peralatan pengawasan mereka hampir seluruhnya sudah hancur. Itu bukan berarti kami tidak akan menghantam mereka. Kita lihat saja apa yang terjadi,” kata Trump kepada media, seperti dilansir dari Antara.
Sebelumnya pada Senin (31/8), Axios melaporkan bahwa Trump mempertimbangkan serangan terbatas terhadap Iran untuk mencegah negara itu memulihkan kemampuan militernya.
Rencana tersebut juga ditujukan untuk mengurangi risiko serangan Iran terhadap kapal tanker minyak serta aset Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS di kawasan.
Pada Minggu, sejumlah ledakan dilaporkan terdengar di Pulau Larak, Iran, yang berada di Selat Hormuz. Axios melaporkan AS telah melancarkan serangan yang diduga menargetkan peluncur rudal Iran di pulau tersebut.
Media Iran kemudian melaporkan bahwa Teheran menembakkan rudal ke kapal-kapal AS di Selat Hormuz dan pangkalan AS di kawasan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pihaknya menyerang Iran untuk mencegah pasukan negara itu menanam ranjau di Selat Hormuz.
Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap target AS.
Pada pertengahan Juni 2026, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan permusuhan. Namun, kedua pihak kembali saling menyerang tidak lama kemudian.
Konflik tersebut masih belum terselesaikan meski saat ini tidak ada permusuhan aktif. Washington memilih meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan tujuan menciptakan tekanan finansial tambahan bagi Teheran. [*]