Anggota DPD RI Lia Istifhama saat menghadiri Pelatihan “UMKM Gunung Anyar: Meningkatkan Daya Saing dengan Digital Marketing dan Artificial Intelligence (AI)” yang digelar di Kantor Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya, beberapa waktu lalu.
Surabaya (Industrial News) — Upaya mendorong kemandirian dan daya saing penyandang disabilitas membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya melalui pendampingan, tetapi juga dengan membuka akses terhadap pengembangan kapasitas, teknologi, hingga pasar yang lebih luas.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengapresiasi langkah Bank Mandiri yang turut memberikan dukungan nyata terhadap pemberdayaan penyandang disabilitas. Khususnya dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mereka hasilkan.
Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan “UMKM Gunung Anyar: Meningkatkan Daya Saing dengan Digital Marketing dan Artificial Intelligence (AI)” yang digelar di Kantor Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya, beberapa waktu lalu.
Menurut Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama, pelatihan dan penguatan kapasitas seperti ini menjadi penting di tengah perubahan pola pemasaran yang semakin mengandalkan teknologi digital. Pemanfaatan digital marketing dan AI dapat membantu pelaku UMKM, termasuk penyandang disabilitas, memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan daya saing produknya.
“Penyandang disabilitas memiliki potensi yang luar biasa. Produk yang mereka hasilkan tidak kalah berkualitas dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Karena itu, yang dibutuhkan adalah dukungan agar mereka semakin percaya diri, mampu mengembangkan produknya, dan memiliki akses pasar yang lebih luas,” ujar Ning Lia.
Ia menilai, produk UMKM karya penyandang disabilitas memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan. Mulai dari batik, lukisan, hingga berbagai produk fesyen memiliki karakter, kreativitas, dan nilai seni yang kuat.
“Batik, lukisan, maupun produk fesyen karya teman-teman disabilitas memiliki daya saing yang tinggi. Bahkan, dari sisi kreativitas dan keunikan, tidak sedikit yang memiliki nilai lebih dibandingkan produk UMKM pada umumnya,” katanya.
Ning Lia menegaskan, keberhasilan pemberdayaan penyandang disabilitas tidak dapat hanya dibebankan kepada keluarga maupun komunitas. Diperlukan ekosistem yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, komunitas, serta masyarakat agar potensi yang dimiliki penyandang disabilitas dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Pemberdayaan tidak cukup berhenti pada pelatihan. Setelah memiliki keterampilan dan menghasilkan produk, mereka juga membutuhkan akses pembiayaan, pemasaran, jejaring, dan pasar yang berkelanjutan. Di sinilah pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat,” tuturnya.
Dalam konteks tersebut, Ning Lia memberikan apresiasi kepada Bank Mandiri yang dinilai telah menunjukkan kepedulian melalui dukungan terhadap pengembangan kapasitas UMKM. Menurutnya, keterlibatan dunia usaha seperti Bank Mandiri dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pemberdayaan yang inklusif.
Ning Lia yang juga merupakan Dewan Penasihat Markas UKM berharap kolaborasi serupa dapat terus diperluas, sehingga semakin banyak pelaku UMKM penyandang disabilitas yang mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
“Ketika akses dibuka, kemampuan mereka akan berbicara. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan tidak ada batasan bagi mereka untuk tumbuh, berkarya, dan masuk ke pasar yang lebih luas,” pungkasnya. [*]