13 Juli 2026

Ilustrasi - Petugas SPBU bersiap melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) Biosolar B50 ke angkutan travel di SPBU Pertamina Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/agr)

Jakarta (Industrial News) – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mendorong penguatan rantai pasok industri otomotif dan komponen dalam implementasi B50, agar sektor tersebut tetap berkontribusi besar terhadap ekonomi.

Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti dihubungi di Jakarta, Senin menyampaikan industri otomotif perlu mendapatkan dorongan kebijakan yang konsisten untuk mendukung percepatan transisi energi, baik melalui instrumen fiskal maupun nonfiskal.

Langkah tersebut dinilai dirinya penting untuk menjaga daya saing industri sekaligus mendukung agenda energi berkelanjutan.

Ia menilai implementasi kebijakan, termasuk penerapan bahan bakar biodiesel B50, perlu dilakukan secara bertahap dengan pendekatan berbasis proyek percontohan atau pilot project.

Melalui skema tersebut, pemerintah dan industri kata dia, dapat mengevaluasi berbagai keunggulan maupun kelemahan sehingga lebih optimal.

Selain aspek kebijakan energi, Esther menekankan pentingnya penguatan rantai pasok industri otomotif. Menurutnya, ekosistem industri tidak cukup hanya kuat dari sisi ketersediaan bahan baku, tetapi juga harus mampu mengembangkan produk antara hingga produk akhir yang memiliki nilai tambah tinggi.

“Penguatan rantai pasok sehingga tidak hanya kuat di bahan baku tetapi juga produk intermediasi sampai produk akhir,” ujar Esther.

Ia juga menyoroti kesiapan infrastruktur sebagai faktor penting dalam mendukung implementasi B50 agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.

Di sisi lain, Esther mendorong peningkatan aktivitas riset dan pengembangan untuk memperkuat penguasaan teknologi nasional. Menurutnya, inovasi berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kualitas bahan bakar biodiesel sekaligus memperkuat posisi industri otomotif Indonesia dalam menghadapi perubahan teknologi global.

“Mendorong terus riset dan pengembangan agar teknologi dikuasai untuk mendorong perbaikan kualitas bahan bakar biodiesel,” katanya.

Sebagai informasi, Menteri Koordinator (Menko)Bidang Perekonomian Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penerapan program biodiesel B50 dapat menghemat devisa Indonesia hingga Rp177 triliun.

Selain itu, program ini bisa mengurangi emisi karbon sebesar 44 juta ton karbon dioksida (CO₂) ekuivalen.

Airlangga mengatakan implementasi B50 membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor solar.

Indonesia juga menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan program biodiesel B50.

Lebih lanjut, Menko menjelaskan bahwa program biodiesel B50 memang menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Sebab, penguatan fondasi ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan saat ini tengah diperlukan. [*]