14 Juli 2026

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri Pengukuhan Pengurus, Komisi, Badan, dan Lembaga MUI Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

Surabaya (Industrial News) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur memiliki peran strategis dalam memperkuat dakwah untuk menghadapi berbagai tantangan sosial, termasuk isu LGBT, melalui edukasi keagamaan dan penguatan nilai-nilai keluarga.

Pernyataan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Pengukuhan Pengurus, Komisi, Badan, dan Lembaga MUI Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030 di Aula Grahadi, Surabaya, Minggu (12/7/2026).

Acara tersebut dihadiri Ketua MUI Pusat KH Anwar Iskandar, Ketua MUI Jawa Timur Prof. Abdul Halim Subahar, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Andy Karyono, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur, serta seluruh pengurus MUI Jawa Timur yang dikukuhkan. Dalam kesempatan itu, Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama turut dilantik sebagai Wakil Sekretaris MUI Jawa Timur masa khidmat 2025–2030.

Dalam sambutannya, Khofifah mengatakan perkembangan global menghadirkan berbagai tantangan sosial yang perlu direspons melalui penguatan dakwah dan pendidikan keagamaan.

Ia mencontohkan informasi yang diterimanya mengenai sekitar 2.000 pasangan LGBT yang berada di sebuah kapal pesiar dan disebut ditolak untuk bersandar di Mesir maupun Turki. Menurut Khofifah, dinamika tersebut menjadi pengingat bahwa berbagai isu sosial bersifat lintas negara sehingga Indonesia juga perlu memperkuat langkah antisipatif.

“Ini menjadi bagian dari tantangan yang harus diantisipasi bersama. MUI memiliki peran penting memperkuat dakwah, edukasi keagamaan, dan ketahanan keluarga agar masyarakat memiliki bekal menghadapi berbagai perubahan sosial,” ujar Khofifah.

Khofifah menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. Karena itu, kolaborasi dengan MUI, ulama, dan organisasi keagamaan menjadi penting untuk memperkuat pembinaan moral dan karakter masyarakat.

Selain isu tersebut, Khofifah juga menyinggung tantangan lain seperti paparan pornografi pada anak, meningkatnya kasus HIV, kesehatan mental, hingga dispensasi perkawinan yang menurutnya memerlukan perhatian bersama melalui pendekatan edukatif dan keagamaan.

Sementara itu, Ketua MUI Jawa Timur Prof. Abdul Halim Subahar menyatakan kepengurusan MUI Jawa Timur periode 2025–2030 berkomitmen memperkuat konsolidasi organisasi dan memperluas kolaborasi dengan pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan dalam menjawab berbagai persoalan umat melalui dakwah yang adaptif dan menyejukkan. [*]