28 April 2026

Anggota DPD RI Lia Istifhama.

Surabaya (Industrial News) — Maraknya praktik judi online kini menjadi ancaman serius yang perlahan menggerus kehidupan masyarakat. Dengan kemasan yang tampak menarik dan menjanjikan keuntungan instan, banyak orang terjebak tanpa menyadari risiko besar yang mengintai di baliknya.

Fenomena yang beredar di tengah masyarakat menunjukkan bahwa judi online kerap diawali dengan kesan “menguntungkan”. Namun di balik itu, terdapat pola jeratan yang sistematis dan berujung pada kerugian besar, baik secara finansial maupun psikologis.

“Awalnya terlihat seperti hiburan ringan yang menghasilkan. Tapi perlahan, justru mengikat dan sulit dilepaskan,” ungkap anggota DPD RI, Lia Istifhama, Minggu (26/4).

Dampak yang ditimbulkan tidak bisa dianggap sepele. Salah satu yang paling nyata adalah kehancuran ekonomi keluarga. Banyak korban yang awalnya hanya mencoba, kemudian terjebak dalam siklus kekalahan yang membuat mereka terus bermain demi menutup kerugian. Situasi ini kerap berujung pada masalah keuangan yang semakin dalam.

Di sisi lain, judi online juga memicu kecanduan yang berdampak langsung pada kesehatan mental. Rasa cemas, stres, hingga depresi menjadi konsekuensi yang sering dialami, terutama ketika seseorang mengalami kekalahan beruntun. Lia Istifhama menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga meluas ke lingkungan sosial.

“Yang terlihat sederhana bisa berubah menjadi tekanan mental yang berat. Ini bukan sekadar permainan, tapi jebakan psikologis,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, dampaknya bahkan lebih mengkhawatirkan. Tidak sedikit individu yang kehilangan fokus hidup, pekerjaan, hingga hubungan sosial akibat keterlibatan dalam judi online. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan judi online bukan sekadar isu hukum, melainkan juga krisis sosial yang memerlukan perhatian serius.

Menurut Lia, ada beberapa faktor yang membuat judi online begitu mudah menjerat. Salah satunya adalah strategi platform yang dirancang untuk memberikan sensasi kemenangan di awal, sehingga memicu rasa percaya diri berlebihan pada pemain. Dari titik itulah, ketergantungan mulai terbentuk.

Selain itu, kemudahan akses melalui perangkat digital membuat siapa saja bisa terlibat kapan pun dan di mana pun. Tanpa kontrol yang kuat, risiko keterlibatan menjadi semakin tinggi, terutama di kalangan generasi muda.

Untuk menghindari jeratan tersebut, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun kesadaran bahwa tidak ada keuntungan instan tanpa risiko besar. Edukasi menjadi kunci utama dalam mencegah keterlibatan sejak dini.

Penggunaan perangkat digital juga perlu dikendalikan secara bijak, termasuk membatasi akses pada konten berisiko. Di saat yang sama, masyarakat didorong untuk mengalihkan perhatian pada aktivitas yang lebih sehat dan produktif agar tidak mudah tergoda.

“Jangan mudah tergiur janji cepat. Kendalikan penggunaan digital dan pilih aktivitas yang memberi nilai positif,” pesan Lia Istifhama.

Ia pun mengingatkan bahwa apa yang tampak menguntungkan belum tentu membawa kebaikan. Judi online merupakan ancaman nyata yang dapat menghancurkan masa depan secara perlahan jika tidak diantisipasi sejak awal. Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif masyarakat untuk memutus rantai penyebaran praktik ini, sekaligus melindungi generasi mendatang dari dampak yang lebih luas. [*]