23 Juni 2026

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat mengunjungi pasien yang sedang dirawat di RS Menur Surabaya.

Surabaya (Industrial News) — Transformasi besar yang tengah berlangsung di Rumah Sakit Menur Surabaya menuai apresiasi Anggota DPD RI, Lia Istifhama. Apresiasi tersebut disampaikan saat kunjungan lapangan untuk meninjau berbagai fasilitas baru serta layanan kesehatan yang kini tampil lebih modern dan terintegrasi.

Dalam kunjungan tersebut, senator yang akrab disapa Ning Lia menilai RS Menur telah berhasil memperluas cakupan pelayanannya. Rumah sakit yang sebelumnya identik sebagai rujukan kesehatan jiwa, kini berkembang menjadi pusat layanan kesehatan yang lebih komprehensif, mencakup layanan tumbuh kembang anak, kesehatan remaja, hingga pelayanan medis umum.

Ning Lia mengenang kondisi RS Menur pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020, ketika layanan kesehatan mental masih menjadi wajah utama rumah sakit ini. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perubahan signifikan terlihat seiring modernisasi fasilitas, peningkatan kualitas layanan, serta penambahan infrastruktur medis.

Ia menyebut, transformasi tersebut tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa yang mendorong percepatan revitalisasi fasilitas kesehatan daerah agar lebih adaptif menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks.

“Dulu kita mengenal RS Menur lebih pada layanan kesehatan mental. Namun sekarang pelayanannya berkembang luar biasa, mulai dari instalasi rawat jalan, rawat inap, rehabilitasi kesehatan, layanan psikologi, hingga layanan kesehatan anak dan remaja,” ujar Ning Lia, Kamis (15/01).

Selain bertambahnya jenis layanan, Ning Lia juga menyoroti capaian medis yang mulai ditorehkan RS Menur, salah satunya keberhasilan proses persalinan bayi kembar yang ditangani dengan baik oleh tim medis. Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator bahwa peningkatan fasilitas turut diiringi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia tenaga kesehatan.

“Ini menunjukkan bahwa peningkatan fasilitas ternyata diikuti pula oleh peningkatan kualitas SDM tenaga kesehatan yang bekerja secara profesional,” tambahnya.

Perubahan fisik bangunan juga tampak nyata. Ruang yang sebelumnya difungsikan sebagai Instalasi Gawat Darurat (IGD) kini disulap menjadi ruang tunggu pelayanan dengan standar kenyamanan lebih tinggi. Area tersebut didesain modern, dilengkapi zona duduk yang nyaman, layanan kafe, serta suasana pelayanan yang lebih ramah dan manusiawi bagi pasien maupun keluarga.

Menurut Ning Lia, transformasi ini bukan sekadar perubahan estetika, melainkan bagian dari pendekatan pelayanan baru yang menaruh perhatian pada kenyamanan psikologis, ketenangan, serta dukungan emosional bagi pasien.

Di sisi lain, ia menilai peningkatan fasilitas kesehatan mental di RS Menur juga membawa dampak sosial yang signifikan. Dengan fasilitas yang lebih baik dan representatif, masyarakat kini memiliki akses yang lebih mudah dan tidak lagi merasa takut atau canggung ketika membutuhkan layanan psikologis dan psikiatri.

“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ketika fasilitasnya terus ditingkatkan dan dibuat lebih manusiawi, masyarakat menjadi lebih mudah mengakses pelayanan tanpa rasa takut atau malu,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur RSJ Menur Surabaya, Fitria Dewi, mengungkapkan bahwa peningkatan fasilitas dan layanan berdampak langsung pada lonjakan jumlah kunjungan pasien. Sepanjang 2025, kunjungan IGD tercatat mencapai 9.272 pasien, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 7.543 kunjungan.

Lonjakan lebih signifikan terjadi pada layanan rawat jalan, dari 62.167 kunjungan pada 2024 menjadi 77.920 kunjungan pada 2025. Layanan rawat inap juga mengalami peningkatan, baik pada segmen jiwa maupun non-jiwa. Pasien rawat inap jiwa naik dari 6.211 menjadi 6.908 pasien, sementara rawat inap non-jiwa meningkat tajam dari 413 menjadi 1.013 pasien.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa RS Menur mulai menjadi rujukan yang lebih luas dalam layanan kesehatan umum, tidak terbatas pada penanganan kasus psikiatri. Indikator efisiensi pelayanan pun menunjukkan tren positif, tercermin dari penurunan Average Length of Stay (ALOS) secara konsisten sejak 2022.

ALOS yang semula berada di angka 22,29 hari pada 2022 dan 21,47 hari pada 2023, turun menjadi 17 hari pada 2024, dan kembali menurun menjadi 15,13 hari pada 2025. Pada tahun tersebut, segmentasi ALOS mulai terlihat jelas dengan ALOS jiwa sebesar 15,11 hari dan ALOS non-jiwa sebesar 3,40 hari, menandakan pengelolaan tindakan medis dan manajemen pasien yang semakin efektif.

Pada periode yang sama, Bed Occupancy Rate (BOR) juga menunjukkan peningkatan berkelanjutan. BOR tercatat sebesar 64,39 persen pada 2022, naik menjadi 70,32 persen pada 2023, meningkat lagi menjadi 79,91 persen pada 2024, dan mencapai 80,42 persen pada 2025. Capaian ini masuk dalam kategori ideal karena menunjukkan pemanfaatan kapasitas tempat tidur yang optimal tanpa overkapasitas.

Transformasi menyeluruh tersebut menandai fase baru RS Menur Surabaya sebagai rumah sakit yang adaptif, modern, dan inklusif dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat, baik fisik maupun mental. [*]