30 April 2026

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama

Surabaya (Industrial News) – Momentum Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember menjadi ruang refleksi mendalam bagi Anggota DPD RI Lia Istifhama. Senator yang akrab disapa Ning Lia ini menegaskan bahwa Hari Ibu bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan bentuk pengakuan atas peran strategis perempuan—khususnya ibu—dalam membangun ketahanan keluarga sekaligus mendorong kemajuan bangsa, terutama di era digital.

Menurut Ning Lia, Hari Ibu harus dimaknai sebagai penghargaan terhadap kontribusi perempuan Indonesia dalam sejarah perjuangan dan pembangunan nasional. Ibu bukan hanya berperan di ranah domestik, tetapi menjadi fondasi utama pembentuk karakter generasi penerus.

“Kebahagiaan dan kualitas hidup seorang ibu sangat menentukan masa depan anak-anaknya, dan pada akhirnya menentukan wajah bangsa ke depan,” ujar Ning Lia, yang juga keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Putri KH Maskur Hasyim ini memandang Hari Ibu sebagai momentum kesadaran kolektif untuk terus memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender. Ia menekankan pentingnya akses yang setara bagi perempuan dalam pendidikan, dunia kerja, perlindungan hukum, serta kehidupan yang bebas dari kekerasan dan diskriminasi.

“Hari Ibu adalah simbol persatuan perempuan Indonesia. Momentum ini mengingatkan kita bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam kebangkitan dan keberlanjutan bangsa,” tegasnya.

Dalam refleksi keislaman, Ning Lia menegaskan bahwa kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dalam keluarga. Dalam Islam dikenal ungkapan al-ummu madrasatul ula, bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

“Jika kita ingin melihat wajah bangsa di masa depan, lihatlah bagaimana para ibu hari ini mendidik anak-anaknya. Di sanalah akidah, akhlak, dan karakter dasar ditanamkan,” tutur Ning Lia.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam Islam dan nilai-nilai kemanusiaan universal, ibu dimuliakan sebagai penentu arah keluarga, bahkan arah peradaban bangsa. Menghormati ibu adalah jalan kemuliaan yang mengantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat, sebagaimana pesan bahwa surga berada di telapak kaki ibu.

Pada momentum Hari Ibu ini, Ning Lia—yang belum lama ini meraih DetikJatim Award—merumuskan nilai CINTA sebagai spirit peran ibu dalam penguatan pendidikan generasi bangsa, khususnya di era digital.

CINTA dimaknai sebagai Care, yakni kepedulian ibu terhadap perkembangan pendidikan anak. Riset menunjukkan perempuan mampu menjalankan peran ganda, baik di ranah publik maupun domestik, serta memberi pengaruh besar terhadap modal sosial anak dalam keluarga. Integrity dimaknai sebagai keteguhan dan konsistensi ibu dalam mendampingi pertumbuhan anak secara bertahap dan bernilai rabbani.

Nimble berarti respons cepat ibu terhadap kebutuhan dan persoalan anak, sejalan dengan kedekatan emosional yang terbangun sejak dini. Touch merujuk pada sentuhan fisik dan emosional sebagai stimulus penting bagi perkembangan kognitif, afektif, dan motorik anak. Sementara Advice dimaknai sebagai nasihat kebajikan yang menjadi fondasi kebijaksanaan dan kecintaan anak terhadap ilmu pengetahuan.

“Spirit CINTA ini bukan semata soal afeksi, tetapi juga kepemimpinan. Ibu adalah pemimpin pertama dalam kehidupan anak,” ujar Ning Lia, seraya mengutip hadis yang menegaskan bahwa setiap individu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

Di tengah tantangan era digital, Wakil Rakyat Terpopuler dan Paling Disukai ini menekankan bahwa empati dan keteladanan ibu menjadi semakin krusial. Empati yang kuat menjadikan ibu sebagai penjaga moral, pendidikan, dan masa depan generasi bangsa.

“Ketika seorang ibu mampu menjaga, mendidik, dan membahagiakan anak-anaknya, sejatinya ia sedang berinvestasi bagi lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing untuk negeri ini,” pungkas Ning Lia. [*]