4 Agustus 2026

Anggota DPD RI, Lia Istifhama, putri Gusdur Yenny Wahid, Plt Asisten Pemprov Jawa Timur Ahmad Djazuli saat menghadiri acara Haul ke-16 Gusdur yang digelar di Taman Bungkul, Surabaya.

Surabaya (Industrial News) — Barikade Gus Dur (BGD) Jawa Timur menggelar Haul ke-16 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Taman Bungkul, Surabaya, Kamis (18/12/2025). Kegiatan ini menjadi momentum reflektif untuk mengenang sosok Bapak Bangsa sekaligus tasyakuran atas penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional oleh negara.

Haul tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya putri Gus Dur, Yenny Wahid; Anggota DPD RI Dr. Lia Istifhama; Plt Asisten Pemprov Jawa Timur Ahmad Djazuli; jajaran Forkopimda dan DPRD Kota Surabaya; perwakilan Kementerian Agama Kota Surabaya; serta tokoh lintas agama dari berbagai latar belakang.

Tahun ini, Haul Gus Dur mengusung tema “Meneladani Budaya Etika Demokrasi Gus Dur”. Menurut panitia, tema tersebut relevan dengan kondisi kebangsaan saat ini, sekaligus menjadi wujud rasa syukur atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-4 Republik Indonesia itu.

Dalam kesempatan tersebut, Yenny Wahid menyampaikan orasi kebangsaan. Ia menegaskan bahwa nilai utama yang selalu diajarkan Gus Dur adalah hidup yang memberi manfaat bagi sesama.

“Yang terpenting dalam kehidupan adalah migunani, bermanfaat. Itu yang selalu diajarkan bapak dan ibu saya,” ujar Yenny Wahid.

Sementara itu, Anggota DPD RI Lia Istifhama menyampaikan refleksi mendalam mengenai keteladanan Gus Dur sebagai tokoh bangsa yang mengajarkan kecerdasan, kemanusiaan, dan kebhinnekaan dalam balutan sikap humoris dan humanis.

“Haul ke-16 ini menjadi ruang refleksi bersama atas ajaran Gus Dur tentang pentingnya menjaga kebhinnekaan demi keberlangsungan bangsa,” ujar senator yang akrab disapa Ning Lia tersebut.

Menurut Ning Lia, Gus Dur juga memberikan teladan tentang pentingnya pemikiran dan tulisan dalam membangun peradaban bangsa. Melalui karya-karyanya, Gus Dur menegaskan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin yang menjunjung tinggi persatuan serta perlindungan terhadap hak-hak minoritas.

“Gus Dur mengajarkan kita bahwa senyuman, komunikasi yang humanis, dan hubungan interpersonal merupakan kunci terciptanya masyarakat yang berkeadaban,” tambahnya.

Ia berharap nilai-nilai keteladanan Gus Dur terus dihidupkan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga terwujud khairunnas anfa’uhum linnas—masyarakat yang setiap langkah dan tutur katanya membawa kemaslahatan bagi bangsa dan negara.

“Nilai-nilai humanis yang ditanamkan Gus Dur menjadi inti dalam mewujudkan kebermanfaatan bagi sesama,” kata Ning Lia, yang juga keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Sementara itu, Ketua Barikade Gus Dur Jawa Timur, Ahmad Arizal, mengatakan haul tersebut dihadiri lebih dari seribu peserta yang merupakan pecinta Gus Dur dari berbagai daerah di Jawa Timur dan lintas komunitas.

“Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional dan ikon pluralisme masih menjadi magnet kuat bagi masyarakat lintas agama dan golongan,” ujarnya. [*]